IHSG turun -3,78%, MBMA Berencana Private Placement untuk Modal Kerja & Pengembangan Usaha. Kompilasi berita untuk hari ini.
📉 IHSG Turun -3,8% Meski Harga Minyak Melandai
Photo by: Stockbit
Daily Market Performance 🚀
IHSG
Foreign Flow
Kurs USD/IDR
Gold
4.094,3 -3,78%
-Rp575,0 miliar
18.148 -0,01%
3.912 -1,45%
Oil
Coal
CPO
Nickel
105,7 +0,92%
149,5 +0,00%
4.552 -2,09%
15.556 +1,87%
👋 Stockbitor!
IHSG anjlok -3,8% atau -192,5 poin pada hari ini, Selasa (3/11), dengan net foreign outflow sebesar Rp575 M. Penurunan IHSG hari ini ditekan oleh penurunan harga saham–saham big caps —setelah BEI mengecualikan saham HSC dari perhitungan IHSG per 2 November 2026— dengan 5 kontributor terbesar terdiri dari $BBRI (-26,58 poin), $BBCA (-13,04 poin), $AMMN (-11,86 poin), $BMRI (-10,9 poin), dan $TLKM (-9,11 poin). Anjloknya IHSG pada hari ini menandai penurunan harian yang terdalam sejak 16 Oktober 2026, ketika MSCI mengumumkan dimulainya konsultasi terkait usulan downgrade status pasar saham Indonesia ke standalone market. Sejak awal pekan ini, IHSG telah turun -3%.
Penurunan IHSG sejak awal pekan ini terjadi di tengah anjloknya harga minyak Brent sebesar -6,8% pada periode yang sama, dengan penurunan sebesar -7,6% pada Senin (2/11) kemarin, sebelum rebound +0,9% ke US$105,7/barrel pada sore hari ini. Melandainya harga minyak pada kemarin sendiri didorong oleh harapan dimulainya kembali perundingan damai antara AS–Iran, sebelum kemudian prospek tersebut meredup seiring serangan militer AS ke Pulau Qeshm, Iran.
Di tengah pelemahan IHSG, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berada di dekat all–time low, dengan ditutup di level 18.148 pada hari ini dan hanya berjarak sekitar 0,2% dibandingkan rekor terendah di 18.183 pada 28 Oktober 2026. Sementara itu, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun sempat melonjak hingga ke level tertinggi sejak Mei 2020 di ~7,81% pada intraday Senin (2/11), sebelum turun ke ~7,72% pada penutupan hari ini.
Key Takeaway
Melandainya harga minyak seharusnya menjadi sentimen positif bagi IHSG, mengingat hubungan harga minyak dengan tekanan fiskal dan neraca impor Indonesia. Oleh karena itu, belum diketahui secara pasti faktor pendorong pelemahan IHSG pada perdagangan hari ini, di mana angka net foreign outflow juga relatif tidak begitu besar, di bawah Rp1 T.
Menyikapi penurunan IHSG, kami masih melihat bahwa bagi investor jangka panjang, penurunan ini memberikan kesempatan akumulasi saham yang memiliki fundamental solid dan rutin membagikan dividen dengan yield tinggi. Beberapa saham yang kami nilai memenuhi kriteria tersebut dapat dilihat pada Stockbit Commentary di sini.
💰 MBMA Berencana Private Placement untuk Modal Kerja & Pengembangan Usaha
$MBMA: Merdeka Battery Materials berencana menggelar private placement hingga ~10,8 miliar saham baru dengan efek dilusi hingga 9,09%. Harga pelaksanaan dan calon investor belum diumumkan, sementara perolehan dana ditujukan untuk modal kerja dan pengembangan usaha, seperti capex, pembelian saham dan/atau aset, serta penyertaan saham. Rencana ini akan dibahas dalam RUPSLB pada 8 Desember 2026.
$ITMG: Indo Tambangraya Megah akan membagikandividen interim tahun buku 2026 senilai US$74,2 juta atau ~US$0,069/saham, setara ~Rp1.249/saham dengan asumsi kurs rupiah terhadap dolar AS di 18.000. Jumlah tersebut mengindikasikan dividend yield ~5,1% per penutupan Selasa (3/11). Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 10 November 2026, sementara pembayaran pada 18 November 2026.
$SSMS: Sawit Sumbermas Sarana akan membagikandividen interim tahun buku 2026 senilai Rp52,49/saham, mengindikasikan dividend yield ~5,5% per penutupan Selasa (3/11). Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 10 November 2026, sementara pembayaran pada 2 Desember 2026.
$MDKA: Merdeka Copper Gold menaikkan guidance produksi tembaga Wetar selama 2026 dari 4.000–5.000 ton menjadi 5.000–6.000 ton, sementara guidance untuk produksi emas Tujuh Bukit dan biaya tembaga tidak berubah. Seiring pemangkasan guidance Merdeka Gold Resources ($EMAS), guidance produksi emas grup (Tujuh Bukit + Pani) selama 2026 turunmenjadi 165.000–190.000 oz, dibandingkan guidance semula di 180.000–205.000 oz.
$ARKO: Direktur Arkora Hydro, Terry Tando, mengatakan dalam pubex pada Senin (2/11) bahwa pihaknya menargetkan produksi listrik selama 2027 dapat mencapai 231,8 GWh, naik sekitar +49,4% YoY dari proyeksi produksi selama 2026 di 155,1 GWh. Target pertumbuhan produksi tersebut didasarkan pada rencana pengoperasian PLTA berkapasitas 10 MW di Tomoni pada 1Q27 serta tambahan kapasitas dari tenaga surya. Selain itu, perseroan memiliki portofolio pipeline proyek lebih dari 300 MW dan terus aktif menjajaki proyek baru. Terry menambahkan bahwa peluang pengembangan pembangkit listrik energi terbarukan masih sangat terbuka, mengingat realisasi pemanfaatan potensi tenaga surya nasional baru sekitar 1,4 GWp dari potensi 3.294 GWp, sedangkan pemanfaatan tenaga air baru mencapai sekitar 7,9% dari total potensi 95 GW. Kinerja operasional ARKO pada 2026 sendiri menghadapi tantangan ketersediaan pasokan air akibat El Nino, meski proyeksi produksi listrik selama tahun ini diperkirakan tetap naik tipis menjadi 155,1 GWh dibandingkan realisasi 2025 di 151,8 GWh.
$JPFA: Japfa Comfeed Indonesia mencatatlaba bersih Rp756 M pada 3Q26 (+15% QoQ, -36% YoY), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai Rp3,2 T (+34% YoY) dan di bawah ekspektasi karena baru memenuhi 69% estimasi 2026F konsensus (vs. rata–rata 9M 3 tahun terakhir: 77% laba bersih tahunan). Kenaikan laba bersih secara kuartalan utamanya didorong oleh kenaikan laba usaha +30% QoQ ke Rp1,5 T seiring margin laba usaha membaik ke 7,6% (vs. 2Q26: 6,3%), didorong oleh segmen ‘commercial farm’ yang berbalik mencetak EBIT Rp438 M (vs. 2Q26: rugi Rp496 M) di tengah kenaikan harga ayam broiler. Sementara itu, pendapatan segmen ‘animal feeds’ pada 3Q26 naik ke Rp11,9 T (+5% QoQ, +35% YoY), tetapi EBIT segmen ‘animal feeds’ turun ke Rp810 M (-25% QoQ, +7% YoY) seiring penyusutan margin EBIT ke 6,8% (vs. 2Q26: 9,5%; 3Q25: 8,6%), yang mengindikasikan bahwa JPFA belum sepenuhnya mampu meneruskan kenaikan biaya bahan baku (soybean meal dan jagung) kepada rata–rata harga penjualan (ASP). Adapun pertumbuhan laba bersih pada 3Q26 tertahan oleh lonjakan beban keuangan ke Rp366 M (+70% QoQ, +77% YoY), utamanya berasal dari beban bunga yang mencapai Rp353 M (+121% QoQ, +89% YoY), yang kami nilai sejalan dengan total utang berbunga yang meningkat ke Rp19,3 T per September 2026 (vs. Desember 2025: Rp11,7 T).
$CPIN: Charoen Pokphand Indonesia mencatat laba bersih Rp1,5 T pada 3Q26 (+30% QoQ, +1% YoY), sehingga laba bersih selama 9M26 mencapai Rp5,2 T (+54% YoY) dan setara ~80% estimasi 2026F konsensus. Kami menilai capaian laba bersih CPIN selama 9M26 sesuai ekspektasi, mengingat terdapat dorongan yang cukup solid dari laba bersih selama 1H26. Kenaikan laba bersih secara kuartalan pada 3Q26 didorong oleh pemulihan segmen ‘broiler’ dan ‘DOC’ seiring rebound harga ayam, yang mendorong margin laba kotor naik ke 17,2% (vs. 2Q26: 12,8%; 3Q25: 19,1%) dan margin laba usaha ke 10,7% (vs. 2Q26: 6,6%; 3Q25: 12,1%). Sementara itu, penjualan segmen ‘feed’ pada 3Q26 naik ke Rp15,9 T (+4% QoQ, +28% YoY), tetapi EBIT segmen ‘feed’ turun ke Rp923 M (-26% QoQ, +1% YoY) seiring margin EBIT yang turun ke 5,8% (vs. 2Q26: 8,1%; 3Q25: 7,3%), yang mengindikasikan CPIN belum sepenuhnya mampu meneruskan kenaikan biaya bahan baku (soybean meal dan jagung) kepada rata–rata harga penjualan (ASP).
🔎 Insider Transactions
Source: IDX
Top Gainer 🔥
$MAPI
$MIKA
$SMIL
$GOTO
+2,89%
+1,15%
+0,49%
+0,00%
Top Loser 🤕
$ANTM
$CTRA
$EMTK
$DSNG
-6,98%
-6,92%
-6,92%
-6,92%
🔥 Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengatakan pada Selasa (3/11) bahwa pemerintah akan kembali mengubah aturan penempatan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA), meski tidak menjelaskan lebih lanjut rincian poin–poin yang akan diubah. Budi menyebut bahwa pemerintah akan melakukan sosialisasi terhadap perubahan aturan tersebut, serta akan mempertimbangkan usulan dari pengusaha maupun eksportir. Budi menjelaskan bahwa perubahan aturan penempatan DHE SDA tersebut tidak berkaitan dengan implementasi sentralisasi ekspor oleh PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Jika terwujud, ini akan menjadi perubahan peraturan DHE SDA ke–4 dalam 2 tahun terakhir, menurut laporan Kontan.
Medco Energi Internasional ($MEDC) akan membagikandividen interim tahun buku 2026 senilai US$30 juta atau ~US$0,0012/saham, setara ~Rp21,8/saham dengan asumsi kurs rupiah terhadap dolar AS di 18.000. Jumlah tersebut mengindikasikan dividend yield ~1,7% per penutupan Selasa (3/11). Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 10 November 2026, sementara pembayaran pada 2 Desember 2026.
Midi Utama Indonesia ($MIDI) akan membagikandividen interim tahun buku 2026 senilai Rp3,8/saham, mengindikasikan dividend yield ~1,5% per penutupan Selasa (3/11). Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 11 November 2026, sementara pembayaran pada 1 Desember 2026.
Eagle High Plantations ($BWPT) akan membagikandividen interim tahun buku 2026 senilai Rp1/saham, mengindikasikan dividend yield ~1,3% per penutupan Selasa (3/11). Cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 10 November 2026, sementara pembayaran pada 25 November 2026.
Elang Mahkota Teknologi ($EMTK) mengumumkan telah mendivestasikan ~99,99% kepemilikan di PT Indopay Merchant Services kepada Starpay Pte. Ltd. dan PT Maju Investindo Sejahtera. EMTK tidak merinci nilai transaksi penjualan maupun profil para pembeli. Divestasi ini merupakan bagian dari penataan dan optimalisasi portofolio investasi.
✍️ Perusahaan Rugi, Apakah Perusahaannya Pasti Jelek?
“Jangan langsung menghakimi saham hanya karena perusahaan mencatatkan kerugian. Pahami dulu penyebabnya, karena yang lebih penting bukan sekadar seberapa besar kerugiannya, tetapi bagaimana kondisi bisnis dan kemampuan perusahaan untuk bangkit.” — dwiyogapratama8
Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini
Perusahaan yang mencatatkan kerugian belum tentu memiliki bisnis yang buruk, karena penting untuk memahami penyebab kerugiannya terlebih dahulu, apakah berasal dari operasional, kerugian non kas seperti penurunan nilai aset, atau kejadian satu kali seperti restrukturisasi dan pelepasan aset. Stockbitor dwiyogapratama8 menambahkan, sebelum memutuskan untuk menjual atau membeli saham, investor perlu melihat beberapa aspek penting, seperti pertumbuhan pendapatan, laba operasional, arus kas dari aktivitas operasi, serta kemampuan perusahaan dalam mengelola utang dan memenuhi kewajibannya. Jadi, jangan hanya terpaku pada angka laba bersih, tetapi pahami penyebab kerugian dan kondisi fundamental perusahaan secara keseluruhan, karena perusahaan rugi tidak selalu buruk, tetapi juga tidak otomatis layak untuk dipertahankan. Baca selengkapnya di sini.
Copyright 2026 Stockbit, all rights reserved. Anda menerima email ini karena terdaftar sebagai akun aktif di Stockbit dan/atau telah mendaftar melalui website Stockbit/Stockbit Snips.
Disclaimer:
Email ini dikirim oleh PT Stockbit Karya Indonesia (“Stockbit”), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.
Semua konten dalam email ini dibuat untuk tujuan informasional dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual saham tertentu. Always do your own research.
Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing-masing nasabah.
Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri “@Stockbit.com”. Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.
Want to change how you receive these emails? Unsubscribe here
America is made up of 50 states, each with its own history, culture, and unique quirks. While many people know about their capitals, nicknames, and most famous landmarks, there are plenty of lesser-known facts that make each state stand out. Unusual laws, surprising geographic features, and record-breaking claims reveal a side of the country that many are unfamiliar with. Here are 10 surprising facts about different states that might shine a new light on what you know about America.