🧐 Data Makro Juli–26 Membaik, Data PDB 2Q26 Dijadwalkan Rilis Rabu (5/8)
Daily Market Performance 🚀
IHSG |
Foreign Flow |
Kurs USD/IDR |
Gold |
| 6.319,6 +1,37% | +Rp623,5 miliar | 18.023 +0,18% | 4.105 +0,35% |
Oil |
Coal |
CPO |
Nickel |
| 82,3 -1,79% | 132,5-1,12% | 4.695 +1,43% | 17.060 -1,10% |
👋 Stockbitor!
BPS pada Senin (3/8) merilis sejumlah data makroekonomi, yang menunjukkan inflasi indeks harga konsumen (IHK) pada Juli 2026 melandai sementara defisit neraca perdagangan berlanjut pada Juni 2026. Berikut rinciannya:
- Inflasi Juli 2026 Melandai ke 2,88% YoY, di Bawah Ekspektasi — Inflasi IHK pada Juli 2026 melandai ke 2,88% YoY (vs. Juni 2026: 3,34% YoY) dan di bawah ekspektasi konsensus yang memperkirakan inflasi 3,2% YoY. Secara bulanan, Indonesia mencatat deflasi 0,14% MoM (vs. Juni 2026: inflasi 0,44% MoM), di luar ekspektasi konsensus yang memperkirakan inflasi 0,09% MoM. Deflasi IHK secara bulanan pada Juli 2026 didorong oleh: 1) deflasi kelompok pengeluaran ‘makanan, minuman, dan tembakau’ dengan andil deflasi 0,26 percentage point, seiring kenaikan produksi komoditas hortikultura dan berkurangnya permintaan seiring jeda program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama libur sekolah; dan 2) deflasi kelompok ‘perawatan pribadi dan jasa lainnya’ dengan andil 0,06 percentage point, utamanya akibat penurunan harga emas perhiasan. Sementara itu, inflasi inti stabil di 2,76% YoY pada Juli 2026, tidak berubah dibandingkan Juni 2026.
- Neraca Perdagangan Kembali Defisit pada Juni 2026, tapi Menyempit ke US$450 Juta & Lebih Baik dari Ekspektasi — Neraca perdagangan kembali mencatat defisit pada Juni 2026, meski angkanya menyusut menjadi US$450 juta (vs. Mei 2026: defisit US$1,61 miliar) dan lebih baik dari ekspektasi konsensus yang memperkirakan defisit US$780 juta. Ekspor tumbuh +8,84% YoY pada Juni 2026 (vs. Mei 2026: -5,73% YoY) seiring pulihnya impor batu bara termal dari berbagai negara Asia. Namun, impor tetap tinggi mencapai +34,27% YoY pada Juni 2026 seiring masih tingginya impor migas. Selama 1H26, surplus neraca perdagangan Indonesia menyusut tajam ke US$3,58 miliar (vs. 1H25: surplus US$19,48 miliar), dengan impor naik hingga +18,69% YoY sementara ekspor hanya tumbuh +4,13% YoY.
Dalam rilis data terpisah, S&P Global mencatat bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia naik ke 50,2 pada Juli 2026 (vs. Juni 2026: 46,9), level tertinggi sejak Februari 2026 dan menandai ekspansi aktivitas pabrik (level >50) yang pertama sejak Maret 2026. Produksi kembali meningkat setelah terkontraksi 4 bulan beruntun, meski pertumbuhannya masih marginal dan penjualan ekspor lanjut melemah dalam 5 bulan beruntun. Meski inflasi biaya input mereda ke level terendah dalam 4 bulan terakhir, tekanannya masih tinggi dan mendorong produsen menaikkan harga jual. Sentimen bisnis mencapai titik tertinggi sejak Januari 2026, didukung oleh ekspektasi penjualan yang lebih kuat, sentimen pelanggan yang membaik, dan tekanan biaya yang lebih rendah.
Key Takeaway
Dampak keseluruhan dari angka neraca perdagangan dan PMI manufaktur yang secara umum lemah pada 2Q26 terhadap pertumbuhan ekonomi akan terlihat pada data pertumbuhan ekonomi periode 2Q26, yang dijadwalkan akan dirilis pada Rabu (5/8). Konsensus ekonom yang disurvei oleh Reuters mengekspektasikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat ke +5,1% YoY pada 2Q26 (vs. 1Q26: +5,61% YoY) seiring melambatnya permintaan konsumen dan kontribusi ekspor neto yang lebih rendah, sementara Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengekspektasikan melambatnya pertumbuhan ekonomi pada 2Q26 tidak akan jauh dari level +5,4% YoY.
Ke depan, faktor pemulihan ekspor pada Juni 2026 — yakni, pulihnya impor batu bara, terutama dari China — diekspektasikan akan bertahan setidaknya dalam beberapa bulan mendatang, sehingga dapat menopang neraca perdagangan Indonesia. Di luar faktor tersebut, pergerakan harga minyak tetap menjadi swing factor utama dari sisi impor.
Terkait inflasi, investor juga perlu memantau perkembangan El Nino yang kini fase puncaknya diproyeksikan akan melewati batas kategori kuat, di mana hal tersebut berpotensi mendorong inflasi harga pangan ke depannya.
📊 MDKA 1H26: Volume Penjualan Emas +3% YoY, Tembaga -18% YoY & NPI +20% YoY
- $MDKA: Merdeka Copper Gold mengumumkan kinerja volume penjualan dan rincian cash margin pada 2Q26/1H26 sebagai berikut: 1) volume penjualan emas 36.574 oz pada 2Q26 (+46% QoQ, +61% YoY) dan 61.560 oz selama 1H26 (+3% YoY), dengan cash margin US$2.867/oz pada 2Q26 (-31% QoQ, +52% YoY) dan US$3.388/oz selama 1H26 (+83% YoY); 2) volume penjualan tembaga 1.924 ton pada 2Q26 (0% QoQ, +10% YoY) dan 3.847 ton selama 1H26 (-18% YoY), dengan cash margin US$3,57/lb pada 2Q26 (+31% QoQ, +305% YoY) dan US$3,14/lb selama 1H26 (+167% YoY); dan 3) volume penjualan NPI 19.505 ton pada 2Q26 (-2% QoQ, +16% YoY) dan 39.496 ton selama 1H26 (+20% YoY), dengan cash margin US$1.981/ton pada 2Q26 (-50% QoQ, +11% YoY) dan US$2.994/ton selama 1H26 (+81% YoY).
- $MBMA: Merdeka Battery Materials mengumumkan kinerja volume penjualan dan rincian cash margin pada 2Q26/1H26 sebagai berikut: 1) volume penjualan saprolite 2,3 juta wmt pada 2Q26 (+21% QoQ, +54% YoY) dan 4,2 juta wmt selama 1H26 (+50% YoY), dengan cash margin US$26,7/wmt pada 2Q26 (+566% QoQ, +2.528% YoY) dan US$16,4/wmt selama 1H26 (+1.444% YoY); 2) volume penjualan limonite 3,3 juta wmt pada 2Q26 (-30% QoQ, +21% YoY) dan 8,1 juta wmt selama 1H26 (+65% YoY), dengan cash margin US$10,4/wmt pada 2Q26 (+3% QoQ, +135% YoY) dan US$9,9/wmt selama 1H26 (+180% YoY); 3) volume penjualan NPI 19.505 ton pada 2Q26 (-2% QoQ, +16% YoY) dan 39.496 ton selama 1H26 (+20% YoY), dengan cash margin US$1.981/ton pada 2Q26 (-50% QoQ, +11% YoY) dan US$2.994/ton selama 1H26 (+81% YoY); dan 4) volume penjualan nickel matte 10.457 ton pada 2Q26 (+30% QoQ, +1.287% YoY) dan 18.513 ton selama 1H26 (+72% YoY), dengan cash margin -US$542/ton pada 2Q26 (-141% QoQ) dan US$490/ton selama 1H26 (+167% YoY).
- $EMAS: Merdeka Gold Resources mengumumkan kinerja volume penjualan dan rincian cash margin pada 2Q26/1H26 sebagai berikut: 1) volume penjualan emas 6.439 oz pada 2Q26 (+1.147% QoQ) dan 6.955 oz selama 1H26; 2) ASP emas US$4.382/oz pada 2Q26 (-14% QoQ) dan US$4.437/oz selama 1H26; dan 3) cash margin US$3.199/oz pada 2Q26 (-18% QoQ) dan US$3.252/oz selama 1H26. Perbandingan secara tahunan antara 1H26 dan 1H25 tidak dapat dilakukan karena EMAS baru mencatat penjualan perdana pada 2026.
- $NCKL: Trimegah Bangun Persada mencatat laba bersih Rp3,1 T pada 2Q26 (+27% YoY, +14% QoQ), sehingga laba bersih selama 1H26 mencapai Rp5,8 T (+42% YoY) dan melampaui ekspektasi karena setara 53% estimasi 2026F konsensus. Laporan keuangan pada 2Q26 menandai kinerja kuartalan pertama di bawah formula Harga Patokan Mineral (HPM) baru, yang membuat pendapatan segmen mining naik +101% QoQ di saat volume penjualan bijih justru turun -3% QoQ menjadi 8,9 juta wmt. Formula ini mendorong naik harga jual bijih segmen mining sekaligus biaya bijih bagi smelter NCKL sendiri, tercermin pada margin laba kotor segmen mining yang naik ke level 37,8% (vs. 1Q26: 22,9%), sementara margin laba kotor segmen processing turun ke 20,3% (vs. 1Q26: 21,5%). Kenaikan ASP juga mendorong biaya royalti naik menjadi ~18% dari pendapatan segmen mining (vs. 1Q26: ~14%), sementara sebagian laba dari penjualan bijih ke pabrik afiliasi belum dapat dibukukan pada 2Q26 karena bijihnya belum diolah, sehingga menahan laba kotor pada 2Q26 di level Rp485 M (vs. 1Q26: Rp120 M) dan baru akan diakui saat bijih tersebut digunakan. Secara kumulatif, kenaikan laba bersih selama 1H26 sebesar Rp1,7 T hampir seluruhnya berasal dari laba entitas asosiasi yang menyumbang Rp1,5 T. Kenaikan laba JV berasal dari 2 sumber yakni: 1) PT Karunia Permai Sentosa (Rp737 M) seiring penambahan kapasitas; dan 2) PT Obi Nickel Cobalt (Rp546 M) seiring kenaikan porsi kepemilikan NCKL dari 20% menjadi 40% pada akhir 1H25 di tengah laba PT Obi Nickel Cobalt yang relatif stabil (+3% YoY).
- $TOTL: Sekretaris Perusahaan Total Bangun Persada, Anggie S. Sidharta, mengatakan kepada Kontan bahwa pihaknya mencatat nilai kontrak baru ~Rp2,78 T selama 1H26 (+11% YoY), setara ~56% target 2026 di Rp5 T. Kontrak baru didominasi oleh proyek data center, rumah sakit, hospitality, gedung perkantoran, dan sejumlah proyek lainnya. Manajemen TOTL optimistis target 2026 dapat tercapai, ditopang oleh pipeline proyek dalam proses tender senilai ~Rp17,7 T.
- $JSMR: Jasa Marga melalui anak usahanya, PT Jasamarga Bali Tol, mendapatkan pembiayaan sustainability linked financing hingga ~Rp1,6 T dari Bank Syariah Indonesia ($BRIS). Fasilitas ini ditujukan untuk pembiayaan investasi aset jalan tol Nusa Dua–Ngurah Rai–Benoa, yang digunakan untuk pelunasan sebagian pokok dan/atau bunga perjanjian pinjaman pemegang saham dengan JSMR selaku pemilik konsesi pengusahaan dari BRIS sebagai kreditur.
- $SRTG: Saratoga Investama Sedaya berencana mengalihkan ~4,9 juta saham treasuri hasil buyback periode 2020 melalui bursa per 18 Agustus 2026.
🔎 Insider Transactions
Top Gainer 🔥
$ARTO |
$ERAA |
$TOBA |
$INDY |
| +9,13% | +7,98% | +7,96% | +7,69% |
Top Loser 🤕
$MAPI |
$KPIG |
$RMKE |
$BUVA |
| -6,07% | -3,49% | -2,96% | -2,56% |
🔥 Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…
- Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Senin (3/8) bahwa dirinya memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada 2Q26 akan berada di bawah level +5,6% YoY yang dicatatkan pada 1Q26, meski penurunannya tidak signifikan dan tidak akan jauh dari level +5,4% YoY. Sebelumnya, konsensus ekonom yang disurvei oleh Reuters mengekspektasikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan melambat ke +5,1% YoY pada 2Q26 (vs. 1Q26: +5,61% YoY) seiring melambatnya permintaan konsumen dan kontribusi ekspor neto yang lebih rendah. Purbaya menyebut bahwa pemerintah memperkirakan pertumbuhan ekonomi akan menguat pada 2H26, seiring rencana pemerintah untuk mempererat koordinasi dengan Bank Indonesia serta sejumlah insentif baru, termasuk untuk kendaraan listrik. Data resmi pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 2Q26 akan dirilis oleh BPS pada Rabu (5/8).
- Pjs Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan pada Senin (3/8) bahwa kebijakan baru yang diumumkan Bank Indonesia bertujuan untuk mengurangi penempatan kelebihan likuiditas perbankan pada SRBI dan mendorong bank meningkatkan penyaluran kredit. Destry mengatakan bahwa Bank Indonesia ingin menjadikan SRBI sebagai instrumen pengelolaan likuiditas, bukan sebagai instrumen investasi bagi perbankan, sembari menambahkan bahwa SRBI akan tetap dimanfaatkan untuk menarik aliran modal asing. Bank Indonesia juga ingin mendorong perbankan agar berperan lebih aktif sebagai lembaga intermediasi melalui peningkatan penyaluran kredit. Sebelumnya, Bank Indonesia pada 2 pekan lalu mengumumkan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) bagi bank yang menjaga rasio kepemilikan SBN dan SRBI non–repo terhadap total pendanaan di bawah 19%, sebagai langkah untuk mengatasi segmentasi likuiditas di pasar uang. Sementara itu, Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, mengatakan bahwa likuiditas industri perbankan saat ini masih memadai dan himpunan bank milik negara (Himbara) telah menyiapkan likuiditas untuk mengantisipasi penarikan dana pemerintah. Regulator yang tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) sepakat untuk mengkoordinasikan waktu penarikan dana pemerintah dari perbankan agar tidak menimbulkan gangguan terhadap likuiditas.
- Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Selasa (4/8) bahwa pemerintah kemungkinan akan mempertahankan penempatan saldo anggaran lebih (SAL) di himpunan bank milik negara (Himbara) hingga 2027 guna membantu memastikan sistem keuangan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat. Purbaya menyebut bahwa pada pertengahan Juni 2026, sektor perbankan mengeluh kepada Purbaya bahwa mereka menghadapi ancaman likuiditas dan ingin pemerintah terus mendukung likuiditas di sektor perbankan. Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan terus menggunakan kebijakan kuasi–moneter untuk mendukung permintaan dan aktivitas ekonomi, sembari berjanji akan terus menjaga kondisi likuiditas dalam sistem ekonomi selama dirinya menjadi menteri keuangan.
- Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pada Selasa (4/8) bahwa Presiden Prabowo Subianto akan mengumumkan insentif pembelian kendaraan listrik dalam 2–3 pekan ke depan. Purbaya menyebut paket insentif tersebut akan melibatkan penjualan 500.000 motor listrik, meski tidak merinci insentif apa yang akan diberikan. Sebelumnya, Purbaya pada Mei 2026 mengatakan bahwa pemerintah berencana memberikan subsidi sekitar Rp5 juta per motor listrik dengan kuota sebanyak 100.000 unit, tetapi insentif tersebut kemudian ditunda. Purbaya juga mengatakan bahwa pemerintah akan menawarkan pembebasan PPN hingga 100% untuk pembelian kendaraan listrik tertentu, meski tidak merincinya lebih lanjut. Purbaya menambahkan bahwa dirinya akan mengabulkan permintaan insentif apa pun dari Toyota jika produsen tersebut memindahkan pabrik manufaktur utama mereka dari Thailand ke Indonesia.
- Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul, mengatakan pada Senin (3/8) bahwa Thailand berencana meningkatkan impor urea dari Indonesia dari 60.000 ton per tahun menjadi “ratusan ribu ton per tahun”. Pernyataan Charnvirakul muncul dalam pidato pembukaan pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Jakarta. Thailand juga siap memasok beras serta 36 kendaraan lapis baja amfibi kepada Indonesia. Presiden Prabowo menyebut bahwa Indonesia dan Thailand harus memperluas kerja sama di bidang pertahanan, perdagangan, pangan, energi, dan investasi.
- PT Wibowo Group Capital mengakuisisi 82,5% saham Mitrabahtera Segara Sejati ($MBSS) dari PT Galley Adhika Arnawama dengan harga ~Rp2.914/saham pada 31 Juli 2026. Rencana transaksi ini telah diumumkan pada Juli 2026. Setelah transaksi ini, PT Wibowo Group Capital akan melaksanakan penawaran tender wajib atas sisa saham MBSS yang dimiliki publik.
- Sekretaris Perusahaan Wijaya Karya ($WIKA), Ngatemin, mengatakan bahwa pihaknya mencatat nilai kontrak baru sebesar Rp6,91 T hingga Juni 2026 (+61% YoY), setara ~35% target 2026 yang mengincar lebih dari Rp20 T. Dari nilai kontrak tersebut, sektor industri penunjang konstruksi berkontribusi 32,6%, diikuti sektor infrastruktur dan gedung (32,4%), energi dan industrial plant (30,4%), properti (2,9%), serta investasi (1,8%).
🍞 Tiga Lapisan Emiten Group Konglo di IHSG
“Intinya, memperlakukan semua saham dalam satu grup dengan strategi yang sama adalah kekeliruan. Setiap lapisan punya preferensi risiko, likuiditas, dan respons terhadap siklus ekonomi yang berbeda-beda.” — klinikporto
Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini
Dalam tulisannya hari ini, Stockbitor klinikporto menjelaskan bahwa dalam sebuah grup konglomerasi, terdapat tiga lapisan emiten. Perusahaan induk, seperti BRPT untuk Grup Barito atau ASII untuk Astra, merupakan lapisan teratas yang menjadi indikator utama sentimen pasar terhadap seluruh perusahaan dalam grupnya. Emiten lapisan tengah dapat dilihat sebagai pilar bisnis utama dalam sebuah sektor yang mendorong harga saham induk melalui arus kas yang masuk ketika kinerjanya sedang baik. Terakhir, lapisan ketiga merupakan anak usaha spesifik yang masih dalam fase perkembangan, namun memiliki mayoritas proyeknya dalam jangka waktu yang panjang, sehingga cenderung memiliki volatilitas yang tinggi dan bersifat spekulatif. Jika kita memahami cara membedakan ketiga lapisan emiten ini, kita dapat menyusun posisi portofolio masing-masing dengan lebih baik.
Disclaimer:
Email ini dikirim oleh PT Stockbit Karya Indonesia (“Stockbit”), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.
Semua konten dalam email ini dibuat untuk tujuan informasional dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual saham tertentu. Always do your own research.
Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing-masing nasabah.
Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri “@Stockbit.com”. Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.
Unsubscribe here
IHSG
Foreign Flow
Kurs USD/IDR
Gold
Oil
Coal
CPO
Nickel
$ARTO
$ERAA
$TOBA
$INDY
$MAPI
$KPIG
$RMKE
$BUVA


