
π€ ELSA 2025: Core Profit +12% YoY, Didorong Segmen Downstream

Daily Market Performance π
IHSG | Foreign Flow | Kurs USD/IDR | Gold |
| 7.710,5 +1,76% | -Rp210,0 miliar | 16.883 -0,01% | 5.179 +0,86% |
Oil | Coal | CPO | Nickel |
| 82,3 +1,14% | 134,0 +0,83% | 4.208 +0,69% | 17.491 +2,17% |
π Stockbitor!
Elnusa ($ELSA) mencatatkan laba bersih Rp192 M pada 4Q25 (+18% YoY, +1% QoQ). Hasil ini membuat laba bersih selama 2025 menjadi Rp719 M (+1% YoY), dengan level margin laba bersih yang relatif stabil di ~5%. Laba bersih 2025 hanya tumbuh moderat seiring lonjakan opex (+14% YoY) akibat kenaikan beban gaji (+13% YoY) serta high–base effect dari one–off transaction pada 2024 berupa pendapatan bunga Rp69 M dari hasil penyelesaian sengketa dengan Bank Mega. Mengesampingkan one–off transaction tersebut, core profit ELSA selama 2025 tumbuh +11,5% YoY menjadi Rp719 M.
- Operasional: Segmen Downstream Naik Signifikan +28% YoY selama 2025
Segmen downstream (distribusi energi dan logistik) masih menjadi kontributor pendapatan terbesar dengan porsi 60% total pendapatan selama 2025, diikuti segmen upstream (28%) dan oil and gas support (11%). Pendapatan ELSA sendiri naik menjadi ~Rp4 T pada 4Q25 (+7% YoY, +14% QoQ), sehingga pendapatan selama 2025 tumbuh +8% YoY menjadi Rp14,4 T. Laba kotor selama 2025 pun naik +9% YoY menjadi Rp1,4 T seiring margin laba kotor yang tetap stabil di level 10%.
Kenaikan pendapatan ELSA selama 2025 utamanya didorong oleh pendapatan segmen downstream yang naik +28% YoY menjadi Rp8,6 T seiring peningkatan volume penyaluran bahan bakar sebesar +29% YoY. Namun, margin laba kotor segmen downstream turun menjadi 7,7% (vs. 2024: 9%).
Sementara itu, pendapatan segmen upstream pada 4Q25 turun menjadi Rp934 M (-28% YoY, +4% QoQ), sehingga pendapatan segmen ini selama 2025 turun -18% YoY menjadi Rp4,1 T. Meski demikian, margin laba kotor segmen upstream selama 2025 naik menjadi 11,8% (vs. 2024: 8,9%). Segmen upstream terdiri dari unit bisnis yang menawarkan jasa seismik, pengeboran, dan perawatan sumur migas, di mana potensi pendapatan dari bisnis ini bergantung pada nilai kontrak yang berhasil dibukukan oleh perusahaan. Pada 9M25, segmen upstream berhasil membukukan nilai kontrak baru sebesar Rp2,9 T, dengan nilai backlog kontrak naik signifikan menjadi Rp9,9 T (vs 2024: Rp4,4 T).
- Outlook: Pergeseran Komposisi Capex ke Segmen Upstream
Komposisi capex ELSA mengalami pergeseran yang semakin besar ke segmen upstream. Pada 2025F, capex segmen upstream diperkirakan mencapai ~45% total capex 2025, meningkat signifikan dibandingkan tahun–tahun sebelumnya (vs. 2024: 37%, 2023: 27%). Pergeseran ini mencerminkan fokus ELSA untuk meningkatkan kapasitas unit bisnis jasa hulu migas, mengingat hampir seluruh aset di segmen upstream telah mencapai tingkat utilisasi mendekati ~100% pada 2024. Terkait guidance 2026, ELSA menargetkan pertumbuhan pendapatan +10% YoY dan pertumbuhan laba bersih sekitar +8–10% YoY.
Key Takeaway
Target pemerintah Indonesia untuk mencapai produksi 1 juta barrel minyak per hari berpotensi menjadi katalis positif bagi ELSA karena target tersebut akan mendorong peningkatan aktivitas eksplorasi dan pengembangan di sektor hulu migas. Segmen upstream ELSA yang menyediakan jasa seismik, pengeboran, dan perawatan sumur berpotensi memperoleh tambahan proyek dari peningkatan aktivitas eksplorasi tersebut. ELSA memperkirakan kinerja segmen upstream perseroan pada 2026 akan lebih baik dibandingkan 2025, didorong oleh kontrak baru yang baru diperoleh pada akhir 2025 dan awal 2026. ELSA sendiri baru akan mengadakan earnings call 2025 pada Jumat (6/3) pukul 10.00 WIB, di mana Stockbit akan kembali meng–update hasil earnings call tersebut.
⛏️ PLN: RKAB 8 Produsen Batu Bara Tak Dipangkas
- $BUMI: Direktur PLN, Rizal Calvary Marimbo, mengatakan bahwa sebanyak 84 juta metrik ton batu bara dari 124 juta ton total kebutuhan PLN tahun ini akan dipenuhi dari 8 perusahaan yang RKAB–nya tidak dipangkas, meliputi Adaro Andalan Indonesia ($AADI), anak usaha Bumi Resources yakni PT Arutmin Indonesia dan PT Kaltim Prima Coal, anak usaha Indika Energy ($INDY) yakni PT Kideco Jaya Agung, anak usaha Indo Tambangraya Megah ($ITMG) yakni PT Indominco Mandiri, Bukit Asam ($PTBA), PT Berau Coal, dan PT Multi Harapan Utama. Sebelumnya, Direktur Jenderal Kementerian ESDM, Tri Winarno, pada Februari 2026 mengatakan bahwa pemegang izin PKP2B generasi I dan BUMN pemegang izin IUP tidak mengalami pemangkasan kuota produksi 2026.
- $MDKA: Merdeka Copper Gold melalui anak usahanya, PT Bumi Suksesindo dan Merdeka Gold Resources ($EMAS), mengumumkan telah menandatangani perjanjian penjualan emas sebesar 3 ton atau ~100.000 oz per tahun selama 2 tahun dengan Aneka Tambang ($ANTM). Perjanjian ini juga memiliki opsi untuk menambah 3 ton lagi per tahunnya. Nilai transaksi belum diumumkan. Sebelumnya, Direktur Utama EMAS, Boyke Poerbaya Abidin, mengatakan pada akhir Februari 2026 bahwa pihaknya telah merealisasikan pengiriman perdana emas dorΓ© seberat 44,04 kg ke fasilitas pemurnian ANTM.
- $HMSP: Philip Morris International mencatat bahwa volume penjualan rokok Hanjaya Mandala Sampoerna turun -1,6% YoY pada 4Q25 (vs. 3Q25: -2,5% YoY, 4Q24: -1,1% YoY), sehingga volume penjualan HMSP selama 2025 turun -1,8% YoY (vs. 9M25: -1,9% YoY, 2024: -3,7% YoY). Berdasarkan segmentasinya, penjualan rokok turun -2,2% YoY selama 2025, sementara IQOS naik +23% YoY. Di sisi lain, volume penjualan seindustri mengalami penurunan yang lebih dalam hingga -2,4% YoY selama 2025 (vs. 9M25: -3,7% YoY), sehingga market share HMSP berada di level 30,7% selama 2025 (vs. 2024: 30,5%).
- $TPIA: Chandra Asri Pacific mengatakan dalam klarifikasi kepada BEI bahwa pemberitahuan force majeure dari perseroan kepada pelanggan merupakan langkah preventif secara administratif untuk memitigasi risiko kerugian di tengah ketidakpastian Selat Hormuz, serta tidak serta–merta mencerminkan penghentian operasional perseroan. TPIA menambahkan bahwa saat ini kegiatan operasional perseroan masih berjalan sebagaimana mestinya. Di sisi lain, perseroan mulai melakukan penyesuaian run rates sesuai kondisi pasokan dan kebutuhan produksi terkini sebagai bagian dari pengelolaan risiko. Pernyataan TPIA muncul setelah Bloomberg pada Selasa (3/3) melaporkan bahwa TPIA mengumumkan force majeure terkait disrupsi feedstock supply melalui Selat Hormuz, dengan durasi force majeure masih belum dapat dipastikan.
- $ASII: Dua anggota direksi Astra International, Thomas Junaidi Alim W. dan Gita Tiffani, masing–masing membeli 462.400 dan 500.000 saham ASII dengan harga rata–rata Rp6.475/lembar dan Rp6.613/lembar pada periode 27 Februari–2 Maret 2026. Total nilai transaksi keduanya mencapai Rp6,3 M. Setelah transaksi ini, porsi kepemilikan langsung Thomas Junaidi Alim W. naik dari 0,0018% menjadi 0,003%, sementara Gita Tiffani naik dari 0,0057% menjadi 0,007%.
- $BNBR: Pemegang saham Bakrie & Brothers, Port Fraser International Ltd., menjual ~2,5 miliar saham BNBR dengan harga rata–rata Rp184/lembar atau senilai total ~Rp457,4 M pada 3 Maret 2026. Transaksi ini ditujukan untuk divestasi. Setelah transaksi ini, porsi kepemilikan langsung Port Fraser International di BNBR turun dari 24,31% menjadi 22,87%.
- $JSMR: Jasa Marga mencatatkan laba bersih Rp931 M pada 4Q25 (-24% YoY, +9% QoQ), sehingga laba bersih selama 2025 mencapai ~Rp3,7 T (-19,3% YoY) dan sedikit di bawah ekspektasi (96% estimasi 2025F konsensus). Pendapatan segmen 'toll road' naik menjadi ~Rp5,3 T pada 4Q25 (+8% YoY, +5% QoQ), sehingga pendapatan segmen 'toll road' selama 2025 naik +5,7% YoY menjadi Rp19,8 T. Adapun EBITDA selama 2025 naik +5,6% YoY menjadi Rp13,3 T, diikuti oleh margin EBITDA yang stabil di level 67,1%. Penurunan laba bersih JSMR selama 2025 sendiri utamanya disebabkan oleh lonjakan beban pajak dari Rp158 M pada 2024 menjadi ~Rp1,5 T pada 2025. Di luar faktor tersebut, laba sebelum pajak masih meningkat +10,2% YoY, didorong oleh penurunan beban keuangan sebesar -12% YoY. Untuk 2026, JSMR mempertahankan guidance seperti pada 2025, dengan target pendapatan segmen 'toll road' dan EBITDA masing–masing tumbuh sekitar +4–6%, sementara target margin EBITDA di kisaran 65–67%.
Top Gainer π₯
$SMGR | $TAPG | $IMPC | $ESSA |
| +6,80% | +6,69% | +6,20% | +6,08% |
Top Loser π€
$KIJA | $FILM | $INCO | $RATU |
| -5,95% | -2,80% | -2,32% | -2,11% |
π₯ Hal lain yang lagi hot yang perlu kamu ketahui…

- Kementerian Keuangan pada Rabu (4/3) menegaskan kembali komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi, disiplin fiskal, iklim bisnis, dan reformasi struktural, menyusul downgrade outlook sovereign credit Indonesia oleh Fitch dari 'stable' menjadi 'negative'. Sebelum Fitch, Moody's telah melakukan langkah serupa pada Februari 2026. Kementerian Keuangan mengatakan telah melihat peningkatan aktivitas ekonomi dan kinerja pendapatan negara, sementara percepatan pengeluaran dan stimulus ekonomi dilakukan secara terukur untuk menjaga pertumbuhan dan disiplin fiskal. Kementerian Keuangan juga menyebut bahwa pihaknya akan memperkuat kolaborasi dengan Danantara melalui investasi di luar APBN, yang sejalan dengan stabilitas fiskal jangka panjang.
- Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengatakan pada Rabu (4/3) bahwa downgrade outlook sovereign credit Indonesia oleh Fitch tidak mencerminkan pelemahan fundamental perekonomian Indonesia, sembari menambahkan bahwa prospek perekonomian Indonesia tetap kuat dan resilient. Pernyataan Perry muncul setelah Fitch merevisi turun outlook kredit Indonesia 'stable' menjadi 'negative' pada Rabu (4/3), meski mempertahankan rating untuk Indonesia di level BBB. Fitch menjelaskan bahwa revisi turun outlook tersebut mencerminkan meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan terkikisnya konsistensi serta kredibilitas bauran kebijakan Indonesia di tengah meningkatnya sentralisasi kewenangan pembuatan kebijakan.
- S&P Global mencatat bahwa Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur China naik menjadi 52,1 pada Februari 2026 (vs. Januari 2026: 50,3), menandai ekspansi aktivitas pabrik dalam 3 bulan beruntun sekaligus level tertinggi sejak Desember 2020. Hasil ini didukung oleh pertumbuhan output yang paling pesat sejak Juni 2024 dan peningkatan pesanan baru yang terkuat sejak Desember 2020. Tingkat confidence produsen pun meningkat ke level tertinggi dalam 11 bulan terakhir.
- Pelayaran Nasional Ekalya Purnamasari ($ELPI) merevisi naik limit penerbitan jumlah saham baru dalam rencana rights issue, dari sebelumnya ~2 miliar saham menjadi ~2,1 miliar saham. Revisi ini menyebabkan efek dilusi ikut naik dari sebelumnya hingga 18% menjadi hingga 22,18%. Harga pelaksanaan dan rasio belum diumumkan. Perolehan dana dari aksi korporasi ini ditujukan untuk likuiditas umum, belanja modal, dan modal kerja termasuk usaha dan kegiatan dalam rangka diversifikasi, ekspansi, dan investasi serta kegiatan penunjangnya. Rencana ini akan dibahas dalam RUPSLB pada 9 Maret 2026.
- Pertamina Geothermal Energy ($PGEO) mengumumkan telah menyerahkan dokumen teknis rencana pengembangan proyek pembangkit listrik Bukit Daun di Bengkulu kepada PLN, sebagai bagian dari proses pembentukan power purchase agreement. Proyek tersebut direncanakan memiliki kapasitas 2x25 MW dan 2x5 MW.
- Pemegang saham Minna Padi Investama Sekuritas ($PADI), PT Sentosa Bersama Mitra, menjual ~121,5 juta saham PADI dengan harga rata–rata Rp132/lembar atau senilai total ~Rp16 M pada 2 Maret 2026. Transaksi ini ditujukan untuk divestasi. Setelah transaksi ini, porsi kepemilikan langsung PT Sentosa Bersama Mitra di PADI turun dari ~5,75% menjadi ~4,67%.
- Pengendali MNC Energy Investments ($IATA), MNC Asia Holding ($BHIT), menjual ~659,3 juta saham IATA dengan harga rata–rata ~Rp96/lembar atau senilai total ~Rp63,2 M pada periode 27 Januari–3 Maret 2026. BHIT menjelaskan bahwa transaksi ini ditujukan untuk rencana strategis perseroan. Setelah transaksi ini, porsi kepemilikan langsung BHIT di IATA turun dari 16,65% menjadi 10,97%.
π₯ Market Crash: Momen yang Mengungkap Trader Sebenarnya
"Perasaan adalah indikator paling mahal di fase seperti ini." — indahcomel
Kutipan menarik dari komunitas Stockbit minggu ini
Banyak trader terlihat hebat saat pasar naik, padahal fase market crash justru menjadi ujian sebenarnya bagi sistem trading yang dimiliki, menurut Stockbitor indahcomel. Dalam tulisannya, beliau menjelaskan bahwa volatilitas tinggi sering memicu keputusan impulsif seperti averaging tanpa rencana atau masuk pasar hanya karena harga terlihat murah. Menurutnya, trader yang memiliki sistem mungkin tetap mengalami kerugian, tetapi kerugiannya terukur karena ada aturan risiko dan ukuran posisi yang jelas. Penasaran bagaimana cara bertahan dan tetap rasional saat pasar bergejolak? Simak ulasan selengkapnya dalam tulisan berikut ini!
Disclaimer:
Email ini dikirim oleh PT Stockbit Sekuritas Digital ("Stockbit"), perusahaan efek yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Semua konten dalam email ini dibuat untuk tujuan informasional dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual saham tertentu. Always do your own research.
Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing-masing nasabah.
Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri "@Stockbit.com". Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.
Unsubscribe here
IHSG
Foreign Flow
Kurs USD/IDR
Gold
Oil
Coal
CPO
Nickel
$SMGR
$TAPG
$IMPC
$ESSA
$KIJA
$FILM
$INCO
$RATU