|
|
Harga Minyak Bertahan Tinggi: Harga minyak Brent untuk kontrak Juni 2026 bertahan di kisaran US$108/barrel per Jumat (1/5) meski sempat menyentuh level US$126,4/barrel pada intraday Kamis (30/4). → berpotensi tetap menekan APBN dan membatasi ruang pemangkasan suku bunga bank sentral. |
|
Uni Emirat Arab Keluar dari OPEC: Uni Emirat Arab pada Selasa (28/4) mengumumkan keluar dari OPEC, mulai 1 Mei 2026. → dengan keluar dari OPEC, UEA tidak lagi terikat kuota produksi dan dapat meningkatkan output minyaknya secara bebas. |
|
The Fed Pertahankan Suku Bunga: The Fed memutuskan untuk mempertahankan suku bunga AS di kisaran 3,5–3,75%, sesuai ekspektasi konsensus. → konsensus Bloomberg memperkirakan The Fed baru akan memangkas suku bunga -25 bps di Q4 2026. |
|
|
|
|
|
|
Market Update
Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Kembali Meningkat Ke ~6,8%
Latest Update (01/05/2026)
|
|
IHSG
6.956,8
|
WoW ▼ -2,42%
YtD ▼ -19,55%
|
|
|
IDR 10Y Govt Bond Yield
6,85%
|
WoW ▲ +7 bps
YtD ▲ +78 bps
|
|
|
Bunga Deposito 12 Bulan
3,60%
|
WoW ▼ -12 bps
YtD ▼ -10 bps
|
|
|
Foreign Flow
(Dalam Triliun Rupiah)
|
1W |
1M |
YtD |
| Obligasi |
-0,13 |
+6,51 |
-20,40 |
| Saham |
-7,31 |
-17,72 |
-50,89 |
|
|
Sumber: Bloomberg, data all market per 1 Mei 2026, kecuali foreign flow obligasi per 24 April 2026.
|
|
|
| 🌏 What Happened in the Market |
|
|
|
Harga minyak Brent untuk kontrak Juni 2026 bertahan di kisaran US$108/barrel per Jumat (1/5) meski sempat menyentuh level US$126,4/barrel pada intraday Kamis (30/4), tertinggi sejak Juni 2022.
|
|
Blokade laut AS menjadi hambatan utama negosiasi AS dan Iran, di mana Iran menegaskan tidak akan melanjutkan negosiasi atau membuka kembali Selat Hormuz selama AS masih memberlakukan blokade. |
|
|
Presiden AS Trump mengatakan bahwa AS akan memulai upaya pada Senin (4/5) pagi untuk membebaskan kapal yang terjebak di Selat Hormuz untuk membantu negara yang netral dalam perang AS–Israel dengan Iran. |
|
|
Uni Emirat Arab, salah satu produsen terbesar OPEC, organisasi negara eksportir minyak, mengumumkan keluar dari OPEC mulai 1 Mei 2026. Hal ini berpotensi melemahkan kontrol OPEC terhadap pasokan minyak global. |
|
|
Sementara itu, OPEC+ akan menaikkan tingkat produksi minyak sebesar 188.000 barel per hari di bulan Juni, menandakan kenaikan dalam tiga bulan berturut-turut sejak penutupan Selat Hormuz. |
|
|
Di tengah harga minyak yang tetap tinggi, pemerintah Indonesia memutuskan untuk memangkas frekuensi pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) dari 5 hari menjadi 4 hari per minggu (diestimasikan menghemat APBN ~Rp50 triliun per tahun), serta akan menghapus sementara bea impor untuk plastik kemasan dan liquefied petroleum gas (LPG). |
|
|
Bank Sentral AS, The Fed, mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50–3,75%, sesuai ekspektasi konsensus. The Fed mencatat bahwa inflasi tetap tinggi akibat kenaikan harga energi global dan menyatakan bahwa konflik Timur Tengah menambahkan ketidakpastian seputar outlook perekonomian. |
|
Sovereign analyst S&P Global Ratings, Rain Yin, mengatakan pada Kamis (30/4) bahwa peningkatan penerimaan negara dari sektor sumber daya dan penurunan restitusi pajak dapat membantu pemulihan fiskal Indonesia pada tahun ini dan mengurangi tekanan pada belanja negara akibat melonjaknya harga minyak.
|
|
S&P memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia +5% YoY selama 2026, didukung permintaan domestik yang solid dan belanja pemerintah. Selain itu, S&P memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan menguat ke level 16.850 pada akhir 2026 dan Bank Indonesia kemungkinan akan menaikkan suku bunga BI Rate sebesar 50 bps pada tahun ini. |
|
|
BPS mencatat inflasi indeks harga konsumen (IHK) Indonesia mencapai 2,42% YoY pada April 2026 (vs Maret 2026: inflasi 3,48% YoY, April 2025: inflasi 1,95%), di bawah ekspektasi konsensus Bloomberg (inflasi 2,70% YoY) dan sejalan dengan target inflasi BI (2,5±1%).
|
|
Secara bulanan, inflasi mencapai 0,13% MoM (vs. Maret 2026: inflasi 0,41% MoM). Sementara itu, inflasi inti mencapai 2,44% YoY pada April 2026 (vs. Maret 2026: inflasi 2,52% YoY). |
|
|
S&P Global mencatat bahwa Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 49,1 pada April 2026 (vs Maret 2026: 50,1), menandai level terendah sejak Juni 2025 sekaligus menjadi kontraksi aktivitas pabrik yang pertama dalam 9 bulan. |
|
Earnings Season Q1 2026: Berikut adalah performa laba bersih Q1 2026 dari sejumlah emiten bank besar yang telah merilis laporan keuangannya. |
|
|
Sumber: Stockbit, Presentasi Perusahaan, Earnings Call.
|
|
|
|
Secara Global: Dipertahankannya suku bunga The Fed sejalan dengan ekspektasi pasar. Namun, The Fed menghapus kecenderungan pelonggaran kebijakan dari pernyataan resminya dan mengindikasikan prospek pemangkasan suku bunga semakin jauh. Tekanan inflasi dari harga energi menjadi faktor kunci, setelah CPI AS naik signifikan dari 2,4% (Februari) ke 3,3% (Maret) dengan hampir tiga perempat kenaikan didorong harga bensin.
Secara terpisah, keluarnya UEA dari OPEC membuka potensi peningkatan pasokan minyak global ketika Selat Hormuz kembali normal — yang bisa menjadi katalis penurunan harga minyak dan meredanya tekanan inflasi.
|
Untuk Indonesia: Rupiah dan pasar saham domestik tertekan oleh kombinasi harga minyak yang tinggi dan The Fed yang menjaga suku bunga AS tetap di level tinggi. Sepanjang minggu lalu, IHSG terkoreksi -2,42% (atau -19,55% YtD) disertai aliran keluar bersih asing dari pasar saham sebesar -Rp7,31 triliun, sementara imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik +7 bps ke 6,85%.
Meski inflasi keseluruhan April justru menurun ke 2,42% YoY, dampak harga minyak mulai terlihat pada kelompok transportasi, terutama tarif angkutan udara dan bensin, yang menjadi penyumbang utama inflasi bulanan.
|
|
|
|
Selama Selat Hormuz belum dibuka, harga minyak yang tinggi berpotensi menjadi sumber tekanan inflasi ke depan yang turut membatasi ruang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga. Mayoritas konsensus Bloomberg memperkirakan The Fed akan memangkas suku bunga -25 bps di Q4 2026 dan BI akan menahan suku bunga selama tahun 2026, meski sejumlah lembaga seperti S&P justru melihat ruang kenaikan +50 bps oleh BI jika tekanan terhadap rupiah berlanjut.
Di saat pasar penuh dengan ketidakpastian, hal sederhana yang dapat dilakukan investor adalah memastikan alokasi aset portofolio sudah sesuai profil risiko dan tujuan investasi. Selain Reksa Dana Pasar Uang Rupiah, Reksa dana pasar uang US Dollar juga dapat menjadi alternatif untuk investor yang ingin mendiversifikasi risiko dari pelemahan rupiah.
|
|
|
|
Bibit New Product - Weekly Uplift
Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD) |
|
✓
|
Cocok untuk diversifikasi mata uang asing di aset yang rendah risiko.
|
 |
Sucorinvest Money Market USD
Return dalam Rupiah meningkat +2,60% dalam seminggu terakhir
|
Return
+8,50%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
|
|
Return
+3,79%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
|
 |
BRI Seruni Likuid Dolar
Return dalam Rupiah meningkat +0,98% dalam seminggu terakhir
|
Return
+9,98%
dalam Rupiah
Sejak Peluncuran
|
|
Return
+2,80%
dalam US Dollar
Sejak Peluncuran
|
|
*Return reksa dana per 30 April 2026, kecuali BRI Seruni Likuid Dolar sejak peluncuran 10 Juli 2025 hingga 30 April 2026.
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 30 April 2026.
Kinerja masa lalu tidak menjamin kinerja di masa depan.
|
|
|
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
|
Return reksa dana per 30 April 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
|
|
|
|
💵 Baru: RD Pasar Uang Batavia USD Money Market – Reksa Dana Pasar Uang dalam denominasi USD rendah risiko dengan alokasi pada deposito dan obligasi jangka pendek. Bisa dicairkan kapanpun. Potensi return dari capital gain dan selisih kurs cocok untuk diversifikasi mata uang asing.
📊 Bibit Insights: Strategi Kelola Cash Tanpa Reaktif Saat Market Volatil – Di tengah pergerakan market yang cepat dan narasi yang terus berubah, Reksa Dana Pasar Uang hadir sebagai aset rendah risiko yang stabil. Tujuannya bukan mengejar return tertinggi, tapi menjaga ketenangan investasi yang tetap didukung oleh return optimal.
|
🏦 Laba Bersih BBNI 1Q26 +5% YoY; Loan Growth Kencang, tapi Margin Tertekan – BBNI mencatat laba bersih Rp5,7 triliun pada 1Q26 (+5% YoY, +15% QoQ), sejalan dengan ekspektasi karena setara 26% estimasi 2026F konsensus (vs. 1Q25: 27% realisasi 2025).
🍪 MYOR 1Q26: Laba Bersih +37% YoY, Dampak Kenaikan Harga Minyak Belum Terefleksi – MYOR mencatat laba bersih Rp946 miliar pada 1Q26 (+37% YoY, -7% QoQ), setara 29% estimasi 2026F konsensus (vs. 1Q25: 24% realisasi 2025).
🤑 AKRA 1Q26: Laba Bersih +16% YoY, Lampaui Ekspektasi – AKRA mencatat laba bersih Rp656 miliar pada 1Q26 (+16% YoY, -20% QoQ), setara 24% estimasi 2026F konsensus (vs. 1Q25: 23% realisasi 2025, rata–rata 3 tahun terakhir: 22%).
|
|
|
|
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual produk tertentu.
|
|
|
|
Email ini dikirim oleh PT Bibit Tumbuh Bersama, Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Informasi di dalam email ini bersifat rahasia dan hanya ditujukan bagi investor yang menggunakan APERD PT Bibit Tumbuh Bersama dan menerima email ini. Dilarang memperbanyak, menyebarkan, dan menyalin informasi rahasia ini kepada pihak lain tanpa persetujuan PT Bibit Tumbuh Bersama.
Reksa dana merupakan produk pasar modal dan bukan produk APERD. APERD tidak bertanggung jawab atas risiko pengelolaan portofolio yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Semua investasi mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas nilai investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Kinerja historikal, keuntungan yang diharapkan dan proyeksi probabilitas disediakan untuk tujuan informasi dan ilustrasi.
Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.
If you no longer wish to receive this email, click on the following link: Unsubscribe
|
Copyright © 2026. All rights reserved.
|
|
|
|
|
0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentar anda