|
|
|
NFP AS Juni Jauh di Bawah Ekspektasi: NFP hanya +57 ribu (vs konsensus: +110 ribu). Tingkat pengangguran turun ke 4,2% tetapi lebih karena berkurangnya angkatan kerja.
→ probabilitas kenaikan suku bunga The Fed hingga Desember 2026 sedikit menurun, harga emas naik +2,2% WoW.
|
|
|
Defisit Neraca Perdagangan Pertama Sejak 2020: Neraca dagang Mei defisit US$1,61 miliar (vs ekspektasi: surplus US$1,01 miliar).
→ kembalinya harga minyak ke level pra-perang AS–Iran berpotensi meredakan tekanan makro domestik ke depan.
|
|
|
Inflasi Indonesia Juni 2026 Lampaui Ekspektasi: Inflasi IHK Juni 2026 sebesar 3,34% YoY, melampaui ekspektasi konsensus (3,22% YoY).
→ masih sejalan target inflasi Bank Indonesia di 2,5±1%.
|
|
|
Inflow Obligasi US$1,26 Miliar, Tertinggi Sejak Mei 2025: Didorong yield 10 tahun yang sempat naik ke ~7,5% dan membaiknya sentimen seiring penurunan harga minyak dunia.
→ daya tarik yield yang tinggi mulai menarik kembali minat investor asing ke pasar obligasi.
|
|
|
|
|
|
|
Market Update
Foreign Flow Obligasi Catat Inflow Bulanan, Tertinggi Sejak Mei 2025
Latest Update (03/07/2026)
|
|
IHSG
5.875,8
|
WoW ▼ -0,35%
YtD ▼ -32,05%
|
|
|
IDR 10Y Govt Bond Yield
7,14%
|
WoW ▼ -2 bps
YtD ▲ +107 bps
|
|
|
Rata-rata Bunga Deposito 12 Bln
3,95%
|
WoW ▲ +10 bps
YtD ▲ +25 bps
|
|
|
Foreign Flow
(Dalam Triliun Rupiah)
|
1W |
1M |
YtD |
| Obligasi |
+10,46 |
+22,48 |
+6,17 |
| Saham |
-3,35 |
-18,16 |
-77,19 |
|
|
Sumber: Bloomberg, data all market per 3 Juli 2026, kecuali data foreign flow obligasi per 30 Juni 2026.
|
|
|
| 🌏 What Happened in the Market |
|
|
|
|
Harga minyak Brent diperdagangkan di ~US$72/barel pada Senin (6/7) pagi dan kembali ke level sebelum perang AS–Iran dimulai pada Februari 2026.
|
|
OPEC+ pada Minggu (5/7) menyepakati kenaikan kuota produksi sebesar 188.000 barrel per hari mulai Agustus 2026, melanjutkan tren kenaikan target produksi serupa yang disepakati organisasi tersebut mulai Juni dan Juli 2026, menambah pasokan minyak global di tengah penurunan harga minyak seiring pulihnya ekspor melalui Selat Hormuz. |
|
|
|
Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat non–farm payroll (NFP) AS naik +57 ribu pada Juni 2026 (vs Mei 2026: +129 ribu), jauh di bawah ekspektasi konsensus (+110 ribu).
|
|
Namun, tingkat pengangguran AS pada Juni 2026 turun ke level 4,2% (vs Mei 2026: 4,3%), dengan penurunan tingkat pengangguran yang sebagian besar didorong oleh keluarnya sejumlah besar masyarakat dari angkatan kerja secara keseluruhan. |
|
|
|
Bloomberg mencatat bahwa obligasi pemerintah Indonesia mencatat foreign inflow sebesar US$1,26 miliar sepanjang Juni 2026, menandai arus masuk bulanan terbesar sejak Mei 2025. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun tercatat di level ~7,12% pada Jumat (3/7), setelah sempat menyentuh 7,47% pada awal Juni 2026. |
|
|
BPS mencatat inflasi indeks harga konsumen (IHK) Indonesia pada Juni 2026 mencapai 3,34% YoY (vs Mei 2026: inflasi 3,08% YoY), melampaui ekspektasi konsensus (3,22% YoY), meski sejalan dengan target inflasi Bank Indonesia (2,5±1%).
|
|
Secara bulanan, inflasi IHK pada Juni 2026 mencapai 0,44% MoM (vs Mei 2026: inflasi 0,28% MoM), melampaui ekspektasi konsensus (inflasi 0,3% MoM), seiring kenaikan harga bensin non–subsidi, tarif angkutan udara, dan pelumas atau oli mesin. |
|
|
Adapun Pertamina menurunkan harga avtur untuk penerbangan domestik di Bandara Soekarno–Hatta dan harga bahan bakar minyak (BBM) non–subsidi jenis solar, yakni Pertamina Dex dan Dexlite, serta Pertamax Turbo per 1 Juli 2026. |
|
|
BPS juga mencatat bahwa neraca perdagangan Indonesia mencetak defisit US$1,61 miliar pada Mei 2026 (vs April 2026: surplus US$89,1 juta), di luar ekspektasi konsensus (surplus US$1,01 miliar), menandai defisit pertama sejak April 2020 sekaligus defisit terbesar sejak April 2019. |
|
|
S&P Global mencatat bahwa Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun ke level 46,9 pada Juni 2026 (vs Mei 2026: 50, Juni 2025: 46,9), menandai level terendah sejak Juni 2025, sekaligus menandai kontraksi aktivitas pabrik ke–2 sejak awal 2026. |
|
|
|
Fitch Ratings mengatakan pada Rabu (1/7) bahwa sovereign rating Indonesia dapat berada dalam tekanan jika cadangan devisa mengalami penurunan yang tajam dan berkepanjangan, terutama jika lemahnya kepercayaan investor terus memicu capital outflow.
|
|
Fitch Ratings mengatakan dalam laporan terbarunya bahwa korporasi di Indonesia menghadapi peningkatan risiko dari makroekonomi yang menantang dan ketidakpastian regulasi yang kian tinggi. |
|
|
|
Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan dalam sidang parlemen bersama DPR pada Kamis (2/7) bahwa APBN 2025 yang telah diaudit mencatat defisit Rp670,34 T atau setara 2,81% terhadap PDB, lebih rendah dibandingkan defisit pada laporan awal di level 2,92% terhadap PDB. |
|
|
|
|
|
Secara Global: Ketua The Fed, Kevin Warsh, pada pidatonya hari Rabu (1/7) mengatakan bahwa pihaknya melihat risiko inflasi telah mereda. Hal tersebut ditambah dengan pelemahan data tenaga kerja AS yang membuka celah bagi pergeseran ekspektasi pasar terhadap arah suku bunga The Fed.
Market sendiri mulai mengekspektasikan sikap hawkish The Fed yang lebih melunak. Menurut CME Fedwatch Tool, probabilitas The Fed menaikkan suku bunga setidaknya sekali hingga akhir 2026 sedikit turun ke ~77% per Senin (6/7), dari ~80% sepekan sebelumnya. Walaupun pergeserannya kecil, namun searah dengan melemahnya dolar AS (-0,5% WoW) dan menguatnya harga emas (+2,2% WoW) pasca rilis NFP.
|
Untuk Indonesia: Berkurangnya tekanan pengetatan moneter AS berpotensi memberi ruang bagi BI, yang telah menaikkan suku bunga sebesar +100 bps sejak Mei 2026, untuk lebih fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, tanpa harus terus menaikkan suku bunga secara agresif. Namun, risiko fiskal domestik tetap perlu dicermati, mengingat pelebaran defisit perdagangan turut menjadi faktor yang dapat mempengaruhi kepercayaan investor terhadap rupiah dan SBN ke depan.
|
|
|
|
Pelemahan data tenaga kerja AS turut membuka ruang bagi The Fed untuk bersikap lebih longgar dalam kebijakan suku bunganya ke depan — sikap yang secara historis cenderung melemahkan dolar AS dan mendorong aliran modal ke aset emerging market, termasuk Indonesia.
Namun sejauh ini, dampak positifnya di Indonesia masih terbatas pada pasar obligasi: SBN mencatat inflow asing bulanan terbesar sejak Mei 2025, sementara pasar saham masih tertekan outflow seminggu dan sebulan terakhir.
Di sisi domestik, meskipun tekanan dari kebijakan moneter AS mulai mereda, inflasi IHK Juni yang melampaui ekspektasi tetap menjaga tekanan bagi BI untuk menahan suku bunga di level saat ini. Konsensus Bloomberg sendiri masih mengekspektasikan kenaikan BI Rate sebesar +25 bps hingga akhir 2026.
Sambil menanti kejelasan dari data inflasi AS (14 Juli) dan review rating S&P, instrumen defensif seperti Reksa Dana Pasar Uang dapat menjadi salah satu cara untuk tetap tenang meski pasar bergerak cepat. Reksa Dana Pasar Uang USD juga bisa menjadi alternatif untuk mendiversifikasi risiko dari pelemahan rupiah.
Untuk yang mempunyai horizon lebih panjang, Obligasi FR jangka pendek yang dipegang sampai jatuh tempo juga menawarkan yield yang menarik, mencapai 6,95% untuk seri PBS030 dengan tenor ~2 tahun per Senin (6/7). Yang terpenting, tetap tidak panik dan berpegang pada rencana investasi jangka panjang.
|
|
|
|
|
Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD) |
|
| |
|
|
Cocok untuk diversifikasi mata uang asing di aset yang rendah risiko. |
|
|
| |
 |
Sucorinvest Money Market USD |
|
| |
Return +14,86% dalam Rupiah Setahun Terakhir |
|
|
Return +3,63% dalam US Dollar Setahun Terakhir |
|
|
| |
|
|
| |
|
|
| |
 |
BRI Seruni Likuid Dolar |
|
| |
Return +14,40% dalam Rupiah Sejak Peluncuran |
|
|
Return +3,36% dalam US Dollar Sejak Peluncuran |
|
|
| |
|
|
| |
Return reksa dana sejak peluncuran 10 Juli 2025 hingga 3 Juli 2026.
Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 3 Juli 2026.
Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan. |
|
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
|
Return reksa dana per 3 Juli 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
|
Top Obligasi FR Jangka Pendek di Bibit
|
.png) |
PBS030 (5,875%)
FR Syariah
|
★ Top Short Term |
|
| |
|
Yield
6,95% p.a.
|
Harga Beli
98,00%
|
Jatuh Tempo
15 Jul 2028
|
|
| |
|
|
|
Yield per 7 Juli 2026 pada jam market 10.30-14.00 WIB
|
|
|
|
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual produk tertentu.
|
|
|
|
Email ini dikirim oleh PT Bibit Tumbuh Bersama, Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Informasi di dalam email ini bersifat rahasia dan hanya ditujukan bagi investor yang menggunakan APERD PT Bibit Tumbuh Bersama dan menerima email ini. Dilarang memperbanyak, menyebarkan, dan menyalin informasi rahasia ini kepada pihak lain tanpa persetujuan PT Bibit Tumbuh Bersama.
Reksa dana merupakan produk pasar modal dan bukan produk APERD. APERD tidak bertanggung jawab atas risiko pengelolaan portofolio yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Semua investasi mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas nilai investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Kinerja historikal, keuntungan yang diharapkan dan proyeksi probabilitas disediakan untuk tujuan informasi dan ilustrasi.
Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.
If you no longer wish to receive this email, click on the following link: Unsubscribe
|
Copyright © 2026. All rights reserved.
|
|
|
|
|
0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentar anda