|
|
|
BI Rate Naik +50 bps ke 5,25%: Kenaikan jauh lebih agresif dari ekspektasi konsensus (+25 bps).
→ BI memprioritaskan stabilitas nilai tukar di atas pelonggaran kebijakan.
|
|
|
IHSG Turun -8,35% WoW ke Level 6.162: Pelemahan didorong oleh tekanan rupiah dan ketidakpastian kebijakan ekspor komoditas.
→ volatilitas jangka pendek berpotensi berlanjut, terutama di sektor komoditas.
|
|
|
Harga Minyak Turun -5,6% ke ~US$97,7/Barrel: Negosiasi AS-Iran mendorong harapan resolusi yang membuka Selat Hormuz secara bertahap.
→ tekanan inflasi global sedikit mereda, namun resolusi belum bersifat final.
|
|
|
|
|
|
Market Update – Foreign Outflow
|
Market Update
Foreign Outflow Obligasi dan Saham
dalam Seminggu Terakhir
| Latest Update (22/05/2026) |
|
|
Market Snapshot
|
|
IHSG
6.162,0
|
| WoW ▼ -8,35% |
| YtD ▼ -28,74% |
|
|
|
IDR 10Y Govt Bond Yield
6,74%
|
| WoW ▲ +5 bps |
| YtD ▲ +67 bps |
|
|
|
Rata-rata Bunga Deposito 12 Bln
3,73%
|
| WoW ▲ +17 bps |
| YtD ▲ +3 bps |
|
|
|
|
|
|
Foreign Flow
Dalam Triliun Rupiah
| |
1W |
1M |
YtD |
| Obligasi |
-0,98 |
+5,88 |
-14,30 |
| Saham |
-1,26 |
-2,97 |
-43,54 |
|
| |
|
|
Sumber: Bloomberg, data all market per 22 Mei 2026.
|
|
|
| 🌏 What Happened in the Market |
|
|
|
|
Bank Indonesia menaikkan suku bunga BI Rate sebesar +50 bps ke level 5,25% untuk memperkuat upaya stabilisasi nilai tukar Rupiah, di luar ekspektasi konsensus yang hanya memperkirakan kenaikan +25 bps.
|
|
BI mempertahankan outlook pertumbuhan ekonomi Indonesia di kisaran +4,9–5,7% YoY (vs realisasi 2025: +5,11%) pada tahun ini, di mana pertumbuhan diperkirakan akan tetap kuat seiring dukungan belanja pemerintah. |
|
|
|
IHSG ditutup menguat +1,1% ke level 6.162 pada Jumat (22/5), meski masih mencatat penurunan -8,35% WoW dan -32,4% dari puncaknya di level 9.120,2 pada penutupan bursa 20 Januari 2026.
|
|
IHSG melemah di tengah tekanan rupiah yang telah melemah 1,4% WoW ke level 17.709 per Jumat (22/5), sentimen rebalancing indeks global, dan ketidakpastian seputar rencana tata kelola ekspor komoditas SDA strategis. |
|
|
|
Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (20/5) mengumumkan peraturan baru terkait tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis, yang akan mewajibkan ekspor komoditas melalui BUMN bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia.
|
|
S&P dan Moody's memberikan peringatan terhadap rencana pengendalian ekspor komoditas secara terpusat. S&P menyebut kebijakan ini berpotensi menciptakan ketidakpastian downside yang lebih besar terhadap rating Indonesia, sementara Moody's menilai kebijakan ini negatif bagi sektor pertambangan dan dapat membebani sentimen investor terhadap lingkungan kebijakan yang lebih luas. |
Baca lebih lanjut terkait rencana tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam strategis:
|
|
|
Kementerian Keuangan pada Selasa (19/5) mengumumkan defisit APBN 2026 per April 2026 mencapai Rp164,4 triliun (0,64% terhadap PDB). Defisit tersebut melebar dibandingkan realisasi APBN 2025 per April 2025 (surplus 0,02% terhadap PDB), meski membaik dibandingkan realisasi APBN 2026 per Maret 2026 (defisit 0,93% terhadap PDB).
|
|
Menkeu Purbaya mengatakan bahwa pemerintah telah memangkas pagu program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada APBN 2026 dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun. |
|
|
Menkeu Purbaya pada Selasa (19/5) juga mengatakan telah memerintahkan kementeriannya untuk menghabiskan Rp2 triliun per hari guna melakukan intervensi di pasar obligasi mulai pekan ini dalam upaya menstabilkan harga. |
|
|
|
Harga minyak Brent turun sekitar -5,6% ke level sekitar ~US$97,7/barrel pada Senin (25/5) pagi, didorong oleh harapan kesepakatan AS–Iran untuk mengakhiri perang dan membuka Selat Hormuz secara bertahap:
|
|
Trump menyebut dirinya tidak akan terburu-buru mencapai kesepakatan yang belum sepenuhnya dinegosiasikan, sementara AS disebut masih akan menerapkan blokade di Selat Hormuz. |
|
|
Sejumlah isu krusial belum terselesaikan, termasuk persediaan enriched uranium Iran dan pencairan dana yang dibekukan sanksi AS, mengindikasikan negosiasi masih dalam tahap awal. |
|
|
|
|
|
|
Secara Global: Perkembangan negosiasi AS–Iran yang belum mencapai kesepakatan final menciptakan dinamika wait-and-see di pasar komoditas energi global. Meski pernyataan Presiden Trump mendorong ekspektasi resolusi cepat dan menekan harga minyak, hambatan substansial — termasuk isu stok uranium dan kontrol Selat Hormuz — mengindikasikan bahwa volatilitas harga energi berpotensi bertahan.
Pasar cenderung bereaksi cepat terhadap setiap pernyataan dari kedua pihak, sehingga pergerakan harga minyak dalam waktu dekat akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi berikutnya.
|
Untuk Indonesia: Kenaikan BI rate sebesar +50 bps menandakan pergeseran stance BI dari pro growth menjadi stability, meski BI menegaskan pertumbuhan ekonomi 2026 tetap diproyeksikan berada dalam sasaran. Langkah ini ditambah intervensi Kemenkeu untuk menstabilkan pasar obligasi yang berpotensi menopang rupiah dalam jangka pendek.
Namun, kebijakan ekspor komoditas terpusat melalui Danantara menambah ketidakpastian. S&P dan Moody's memperingatkan dampak negatifnya terhadap rating Indonesia dan sentimen investor, berpotensi memperpanjang tekanan pada pasar modal dalam waktu dekat.
|
|
|
|
Pekan ini mungkin terasa berat bagi investor di Indonesia. IHSG turun -8,35% WoW, kinerja obligasi (INDOBeX) turun -0,32% WoW, dan Rupiah melemah ke level 17.709 per dolar AS di tengah tekanan faktor domestik dan ketidakpastian geopolitik.
BI akhirnya mengambil langkah menaikkan suku bunga yang lebih agresif dari ekspektasi pasar, meski menegaskan langkah ini tidak akan mengorbankan pertumbuhan ekonomi; likuiditas tetap dijaga dan perbankan diminta tidak menaikkan suku bunga kredit. Sentimen investor turut terpengaruh oleh ketidakpastian kebijakan ekspor komoditas yang baru diumumkan. Wajar jika kondisi ini terasa membingungkan.
Yang perlu dicermati: perkembangan negosiasi AS-Iran yang akan menentukan arah harga energi global, serta detail implementasi kebijakan ekspor komoditas di bawah Danantara.
Di tengah kondisi seperti ini, memastikan alokasi aset portofolio sudah sesuai profil risiko dan tujuan investasi dapat membantu investor tidur tenang meski pasar bergerak cepat. Dua instrumen yang dapat digunakan untuk diversifikasi:
|
- Reksa Dana Pasar Uang USD — opsi defensif untuk diversifikasi dari pelemahan rupiah.
- SBN Retail ST016 — floating with floor return, berarti imbal hasil ikut naik jika BI Rate naik, dengan passive income setiap bulan.
|
|
|
|
Bibit New Product - Weekly Uplift
|
Reksa Dana Pasar Uang US Dollar (USD)
|
|
|
|
Cocok untuk diversifikasi mata uang asing di aset yang rendah risiko.
|
|
|
 |
Sucorinvest Money Market USD
|
|
|
Return
+12,22%
dalam Rupiah
Setahun Terakhir
|
|
Return
+3,48%
dalam US Dollar
Setahun Terakhir
|
|
|
|
|
|
 |
BRI Seruni Likuid Dolar
|
|
|
Return
+12,44%
dalam Rupiah
Sejak Peluncuran
|
|
Return
+2,99%
dalam US Dollar
Sejak Peluncuran
|
|
|
|
|
Return reksa dana per 22 Mei 2026, kecuali BRI Seruni Likuid Dolar sejak peluncuran 10 Juli 2025 hingga 22 Mei 2026. Konversi kurs USD ke Rupiah berdasarkan data Bloomberg per 22 Mei 2026. Kinerja masa lalu, tidak menjamin kinerja di masa depan.
|
|
|
Top Reksa Dana Pasar Uang di Bibit
|
Return reksa dana per 22 Mei 2026.
Berdasarkan data historis, tidak menjamin kinerja di masa depan.
|
|
|
|
| |
Kuota SBN ST016 Tersisa <20%, Imbal Hasil Berpotensi Naik |
|
|
Suku bunga BI naik ke level 5,25% per Mei 2026. Dengan skema imbal hasil floating with floor, maka imbal hasil ST016 akan naik jika suku bunga BI naik. Jika suku bunga BI ditahan pada level 5,25% hingga Agustus 2026, maka imbal hasil ST016 akan naik per September 2026.
|
| Produk |
Return |
|
Sebelum
BI Rate 4,75%
|
Setelah
BI Rate 5,25%
|
|
ST016-T2
Spread +1,30%
|
6,05% p.a. |
6,55% p.a. |
|
ST016-T4
Spread +1,50%
|
6,25% p.a. |
6,75% p.a. |
| Perhitungan imbal hasil = BI Rate + spread ST016. Penyesuaian imbal hasil dilakukan setiap 3 bulan sekali. |
|
|
ST016 hanya bisa dibeli pada masa penawaran hingga 3 Juni 2026 pukul 12.00 WIB.
|
Simulasi Passive Income Bulanan ST016 dengan BI Rate 5,25%
|
Modal |
Minimum Return per Bulan ST016-T2 |
Minimum Return per Bulan ST016-T4 |
Rp 100 Juta |
Rp 491,220 |
Rp 506,250 |
Rp 1 Miliar |
Rp 4,912,200 |
Rp 5,062,500 |
Rp 5 Miliar |
Rp 24,561,000 |
Rp 25,312,500 |
| Simulasikan modal kamu → |
|
* Minimum pembelian Rp 1.000.000. Simulasi sudah nett setelah dipotong pajak (10%). |
|
|
|
|
|
|
Writer: Bibit Investment Research Team
Disclaimer: Konten dibuat untuk tujuan edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual produk tertentu.
|
|
|
|
Email ini dikirim oleh PT Bibit Tumbuh Bersama, Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan. Informasi di dalam email ini bersifat rahasia dan hanya ditujukan bagi investor yang menggunakan APERD PT Bibit Tumbuh Bersama dan menerima email ini. Dilarang memperbanyak, menyebarkan, dan menyalin informasi rahasia ini kepada pihak lain tanpa persetujuan PT Bibit Tumbuh Bersama.
Reksa dana merupakan produk pasar modal dan bukan produk APERD. APERD tidak bertanggung jawab atas risiko pengelolaan portofolio yang dilakukan oleh Manajer Investasi. Semua investasi mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas nilai investasi. Kinerja masa lalu tidak mencerminkan kinerja di masa depan. Kinerja historikal, keuntungan yang diharapkan dan proyeksi probabilitas disediakan untuk tujuan informasi dan ilustrasi.
Untuk informasi lebih lanjut, klik di sini.
If you no longer wish to receive this email, click on the following link: Unsubscribe
|
Copyright © 2026. All rights reserved.
|
|
|
|
|
0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentar anda