POWR: From Boring to Booming, Powered by Data Center
Penulis: Theodorus Melvin | Editor: Vivi Handoyo Lie, Edi Chandren, Andrian Tanuwijaya, Aulia Rahman Nugraha
8 September 2026
- POWR memasuki fase growth, didorong oleh akselerasi pertumbuhan data center dan pemulihan volume penjualan listrik ke PLN.
- Laba bersih berpotensi tumbuh +18% CAGR pada periode 2025–2027F, didorong pertumbuhan top–line dan pemulihan margin seiring normalisasi beban bahan bakar.
- Dengan target dividend yield 9% sebagai basis valuasi, kami menilai fair value POWR di kisaran Rp1.050–1.215/lembar.
Volume Penjualan Listrik POWR (2021–2027F)
Executive Summary
Tidak Ada Lagi yang Menahan Pertumbuhan Laba — Sejak tulisan terakhir kami terkait Cikarang Listrindo ($POWR) pada 2022, laba bersih POWR tercatat relatif stabil di kisaran US$72–77 juta per tahun hingga 2025. Pertumbuhan POWR sebenarnya sudah datang pada 2025 ketika pendapatan dari pelanggan industri perseroan naik +6% YoY, tetapi pertumbuhan tersebut terkompensasi oleh pendapatan dari PLN yang turun -27% YoY akibat keterbatasan pasokan gas. Lebih lanjut, kenaikan biaya bahan bakar diesel menjadi US$26 juta pada 2025 (vs. 2024: US$4 juta) — di mana komponen biaya tersebut tidak dapat diteruskan ke pelanggan karena berada di luar formula tarif — membuat laba bersih POWR turun ke ~US$72 juta. Kami menilai 2026 menjadi titik balik kinerja POWR, ditopang oleh: 1) akselerasi pertumbuhan segmen data center; 2) pemulihan volume penjualan listrik kepada PLN seiring normalisasi pasokan gas; dan 3) kenaikan margin laba kotor seiring normalisasi beban bahan bakar akibat penurunan beban diesel.
Laba Bersih Naik +18% CAGR pada 2025–2027F — Kami memproyeksikan laba bersih POWR akan tumbuh +18% CAGR pada periode 2025–2027F, dari ~US$72 juta pada 2025 menjadi ~US$90 juta pada 2026F dan ~US$100 juta pada 2027F. Di sisi pendapatan, kami mengekspektasikan pendapatan naik +3% YoY pada 2026F, dengan seluruh kenaikan berasal dari volume, yakni: 1) segmen data center yang tumbuh +44% CAGR pada periode 2025–2027F, dengan kontribusi segmen data center terhadap total penjualan listrik POWR naik dari 7% pada 2025 menjadi 12% pada 2026F dan 14% pada 2027F, serta menopang seluruh kenaikan volume pelanggan industri; dan 2) volume penjualan listrik kepada PLN yang pulih ke level 723 GWh pada 2026F (+4% YoY) dan 788 GWh pada 2027F (+9% YoY). Di sisi beban, biaya diesel akan ternormalisasi kembali ke ~US$4 juta pada 2026F dan 2027F (vs. 2025: ~US$26 juta) dan tergantikan oleh kenaikan biaya gas yang sifatnya dapat diteruskan ke pelanggan. Gabungan kenaikan pendapatan dan penurunan beban tersebut akan mengangkat margin laba kotor POWR ke level ~27% pada 2026F dan 2027F (vs. 2025: 24%), level yang sudah pernah dicapai POWR pada periode 2023–2024. Sebagai catatan, proyeksi kami atas kinerja keuangan POWR pada 2026F turut memasukkan laba one-off dari klaim asuransi sebesar US$7,4 juta terkait gangguan suplai gas. Meski demikian, kami menilai kualitas laba POWR tetap akan membaik pada 2027F, seiring: 1) ramp–up pendapatan dari segmen data center; 2) kenaikan pendapatan dari PLN seiring ekspektasi akan stabilnya suplai gas sepanjang tahun; dan 3) beban pajak tangguhan yang lebih rendah seiring ekspektasi nilai tukar rupiah yang lebih stabil.
Rally Harga Saham dalam Sebulan Terakhir Masih Menyisakan Ruang Kenaikan — Kami menggunakan pendekatan dividend yield sebagai basis utama valuasi, mengingat dividen menjadi komponen utama return POWR selama ini. Dengan dividend payout ratio yang bertahan di kisaran ~95% dalam 4 tahun terakhir, pergerakan harga saham POWR secara historis lebih dipengaruhi dividend yield–nya ketimbang multiple laba. Kami menilai pendekatan ini paling konservatif karena tidak mengandalkan re–rating, sehingga potensi re–rating menjadi bonus upside tambahan. Meski telah naik +25% ke level Rp900/saham, POWR masih diperdagangkan pada valuasi 9x P/E dan 4,2x EV/EBITDA 2026F dengan dividend yield 10,5%, lebih rendah -51% (P/E) dan -69% (EV/EBITDA) dibandingkan rata–rata peers utilitas regional yang memiliki valuasi 18,4x P/E dan 13,6x EV/EBITDA. Pada basis 2027F, valuasi POWR semakin murah di 7,8x P/E dan 3,7x EV/EBITDA dengan dividend yield 12,2%. Dengan asumsi dividend payout ratio mencapai 95% — sejalan dengan realisasi dalam 4 tahun terakhir — dan target dividend yield 9%, kami menilai potensi upside POWR berada di Rp1.050/lembar (+17%) pada basis 2026F dan Rp1.215/lembar (+35%) pada basis 2027F. Kami melihat berakhirnya persepsi ‘boring’ pada POWR seiring kembalinya pertumbuhan volume membuka peluang bagi saham POWR untuk naik mengikuti pertumbuhan laba, dengan re–rating multiple sebagai potensi upside tambahan.
Risiko — Risiko utama yang kami lihat antara lain: 1) tidak tercapainya pertumbuhan volume data center, baik dari sisi penambahan kapasitas terkontrak maupun tingkat pemakaiannya; 2) realisasi pemulihan volume penjualan listrik kepada PLN yang di bawah asumsi kami; 3) gangguan suplai gas yang mengharuskan perseroan menggunakan bahan bakar diesel dan mendorong pelemahan margin laba usaha; 4) beban pajak tangguhan dan selisih kurs yang berulang seiring pelemahan rupiah; dan 5) keputusan capex atas rencana penambahan kapasitas ~300 MW yang dapat menekan dividend payout ratio.
Background Story: Mengapa Stockbit Kembali Menulis POWR? Mengapa Sekarang?
Pada September 2022, kami telah menulis Unboxing Saham POWR dan menilainya sebagai saham dengan kinerja laba yang stabil dengan dividend yield sekitar 9–10% per tahun. Sejak saat itu, ekspektasi tersebut relatif sejalan dengan kenyataan, di mana laba bersih POWR stabil di kisaran US$72–77 juta pada periode 2022–2025, diiringi harga saham yang bergerak sideways.
Meski demikian, kami menilai stabilnya laba bersih POWR pada periode tersebut menyimpan cerita yang lebih kompleks. Segmen pelanggan industri bertumbuh secara perlahan, tetapi tertahan oleh gangguan suplai gas yang menekan volume penjualan listrik kepada PLN. Di luar itu, beban pajak tangguhan akibat pelemahan rupiah terhadap dolar AS dan beban one–off juga turut menekan laba. Dengan kata lain, stabilitas laba tersebut lebih merupakan hasil dari faktor–faktor yang saling mengimbangi, bukan cerminan dari kinerja underlying yang stabil.
Namun, kami menilai kondisi kinerja POWR ke depan akan berbeda: narasi POWR telah bertransisi dari dividend stock dengan kinerja relatif stabil menjadi growing company with dividend as a cushion, setidaknya dalam 2–3 tahun ke depan. Katalis pertamanya adalah segmen data center, di mana kapasitas terkontrak naik ke 274 MVA pada 1H26 atau setara 90% target manajemen 2026F, dengan 45 MVA di antaranya masuk pada 2Q26. Katalis kedua datang dari segmen PLN yang mulai memperlihatkan tanda-tanda rebound setelah pasokan gas perseroan kembali normal sejak akhir April 2026, menyusul gangguan sejak Agustus 2025. Kombinasi keduanya, ditambah low–base effect dari periode sebelumnya, membuat kami menilai POWR berpeluang tumbuh lebih baik ke depan.
Harga Saham vs. Laba Bersih POWR 2021–2027F
Show Me The Number: Seperti Apa Profil Pertumbuhan POWR dalam 2 Tahun ke Depan?
Kami memproyeksikan laba bersih POWR akan tumbuh +18% CAGR pada periode 2025-2027F, dari ~US$72 juta pada 2025 menjadi ~US$90 juta pada 2026F dan ~US$100 juta pada 2027F. Sumber utamanya adalah volume penjualan listrik yang naik +5,3% CAGR ke level 4.606 GWh pada 2027F, setelah terus mengalami tren penurunan dari 2022 akibat penurunan volume penjualan listrik kepada PLN. Kenaikan volume penjualan listrik tersebut akan berdampak pada kenaikan pendapatan POWR (+5% CAGR 2025–2027F), sementara normalisasi beban bahan bakar membuat margin laba usaha POWR akan kembali ke kisaran 23–24% pada 2026F-2027F (vs. 2025: ~20%).
Proyeksi P&L POWR pada 2021–2027F (dalam US$ juta)
Segmen data center akan menjadi sumber utama pertumbuhan POWR, dengan volume penjualan listrik kepada segmen tersebut kami proyeksikan naik +44% CAGR pada periode 2025–2027F ke level 649 GWh, sehingga kontribusinya terhadap total konsumsi pelanggan industri naik dari 9% pada 2025 menjadi 17% pada 2027F. Ini akan membuat kontribusi segmen data center terhadap total volume penjualan listrik POWR naik dari 7% pada 2025 menjadi 12% pada 2026F dan 14% pada 2027F.
Proyeksi Operasional POWR pada 2021–2027F
Walk Me Through The Numbers: Apa Asumsi Utama Stockbit untuk Pendapatan & Margin POWR?
Berikut beberapa faktor utama yang kami gunakan dalam analisis kami:
- Pendapatan: Kenaikan volume, baik dari pelanggan industri maupun PLN.
- Normalisasi biaya: Beban bahan bakar berkurang akibat kondisi suplai gas yang lebih baik.
- One–off gain/cost: Klaim asuransi US$7,4 juta yang menutup kenaikan beban pajak tangguhan.
Berikut penjelasan untuk masing–masing asumsi:
1. Pendapatan: Kenaikan Volume dari Pelanggan Industri & PLN
Sebagai konteks, model bisnis POWR memiliki sifat pass–through pada komponen bahan bakar dalam tarifnya, baik ke pelanggan industri maupun PLN. Akibatnya, meski harga jual listrik POWR bergerak mengikuti volatilitas biaya bahan bakar, keuntungannya justru relatif stabil dan — berdasarkan perhitungan kami — dapat dimodelkan secara cost–plus dengan margin nominal dalam dolar AS (US$/kWh). Oleh karena itu, volume penjualan listrik menjadi variabel utama penentu arah kinerja POWR ke depan.
Dalam asumsi kami, volume penjualan listrik POWR akan meningkat ke level 4.373 GWh pada 2026F (+5% YoY) dan 4.606 GWh pada 2027F (+5% YoY). Rincian pertumbuhan volume kami lampirkan sebagai berikut:
Volume Penjualan Listrik POWR pada 2021–2027F
2. Normalisasi Biaya: Beban Bahan Bakar Berkurang akibat Kondisi Suplai Gas yang Lebih Baik
Pada 2025, fuel mix pada beban pokok pendapatan POWR mengalami perubahan seiring lonjakan beban bahan bakar diesel ke level US$26 juta (vs. 2024: US$4 juta). Berdasarkan diskusi kami dengan manajemen POWR, komponen diesel tidak dapat diteruskan sepenuhnya kepada pelanggan karena diesel bukan bahan bakar operasional utama, melainkan hanya digunakan saat maintenance pembangkit lain atau ketika pasokan gas terganggu. Dengan ekspektasi suplai gas yang membaik, kami memperkirakan biaya diesel akan ternormalisasi kembali ke US$4 juta pada 2026F dan tergantikan oleh kenaikan biaya gas yang sifatnya dapat diteruskan ke pelanggan. Kombinasi kenaikan pendapatan dan normalisasi biaya bahan bakar pada beban pokok pendapatan membuat kami mengekspektasikan margin laba kotor POWR dapat meningkat ke level ~27% pada 2026F dan 2027F. Hal ini bukan capaian istimewa, mengingat margin laba kotor POWR sebelumnya dapat mencapai 32% pada 2021 dan 30% pada 2022, sehingga proyeksi kami merupakan pemulihan kinerja ke level 2023.
Perubahan Fuel Mix & Dampaknya pada Margin Laba Kotor POWR pada 2021–2027F
3. One–off Gain/Cost: Klaim Asuransi US$7,4 Juta Menutup Kenaikan Beban Pajak Tangguhan
Sebagai catatan, proyeksi kami atas kinerja keuangan POWR pada 2026F turut memasukkan klaim asuransi sebesar US$7,4 juta terkait gangguan suplai gas, yang menurut manajemen telah disetujui dan diperkirakan selesai pada 3Q26. Di sisi lain, kami juga mengekspektasikan kenaikan beban pajak tangguhan, yang pada 1H26 telah mencapai US$7,7 juta (vs. 2025: US$3,4 juta). Klaim asuransi tersebut bersifat one–off dan tidak akan terulang pada 2027F. Meski demikian, kami tetap memproyeksikan laba bersih POWR pada 2027F akan tumbuh +11% YoY ke ~US$100 juta, yang mencerminkan ekspektasi kami atas kekuatan pertumbuhan operasional POWR ke depan dan penurunan beban pajak tangguhan seiring stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Kontributor Kenaikan Laba Bersih POWR pada 2025–2027F
Data Center Growth: Dari Mana Sumbernya, Pelanggan Lama atau Tenant Baru?
Asumsi kami saat ini sepenuhnya bertumpu pada ekspansi pelanggan lama, sejalan dengan guidance manajemen POWR yang memproyeksikan kapasitas terkontrak akan naik dari 227 MVA menjadi 303 MVA pada 2026F, 385 MVA pada 2027F, dan 447 MVA pada 2028F. Berdasarkan analisis kami, terdapat sekitar 3–4 anchor tenant data center di area POWR. DCI Indonesia ($DCII) menjadi tenant dengan kapasitas terkontrak paling besar saat ini, sedangkan EdgeConneX kami nilai memiliki laju pertumbuhan tercepat ke depan.
Proyeksi Kapasitas Terkontrak Data Center di Area Operasional POWR pada 2019–2028F
Dalam laporan keuangan 1H26, DCII mencatat tingkat penyelesaian proyek data center JK6 fase 3–5 sebesar 80%, naik dari 15% untuk fase 3 pada akhir 2025. Sementara itu, proyek JK7 dan JK8 — yang juga berada di area operasional POWR — pertama kali melaporkan progres pembangunannya pada 1H26 dan sudah memasuki tahap fondasi. Rangkaian proyek tersebut merupakan kelanjutan dari total rencana DCII di area POWR yang mencapai 220 MW, dari kapasitas IT terpasang saat ini di level 73 MW, meski belum ada target waktu penyelesaian yang diumumkan. Ekspansi EdgeConneX juga sedang berjalan, dengan rencana hyperscale data center campus hingga 200 MW. Fase 1 (JKT 01) telah beroperasi, sedangkan fase 2 (JKT 02) dan fase 3 (JKT 03) masih dalam konstruksi dengan target operasional pada awal 2027.
Rangkaian perkembangan tersebut memperkuat tesis kami bahwa target manajemen POWR relatif konservatif dan achievable. Dengan kata lain, proyeksi kami sudah dapat tercapai hanya dengan ekspansi pelanggan lama, sementara potensi masuknya tenant baru yang sedang dibicarakan akan menjadi potensial upside.
Track Record Guidance: Apakah POWR Selalu Mencapai Guidance–nya?
Tidak selalu tercapai, tetapi tren belakangan menunjukkan perbaikan yang konsisten.
Bagi investor yang telah mengikuti saham POWR sejak lama, cerita growth dari data center bukan merupakan hal baru. Berkaca pada Unboxing Saham POWR pada September 2022, manajemen perseroan saat itu memproyeksikan komitmen kapasitas dari tenant data center mencapai 160 MVA pada akhir 2022. Namun, realisasinya ternyata hanya 106 MVA atau 66% dari target 2022. Target tersebut kemudian digeser ke 2023 sekaligus direvisi turun menjadi 137 MVA, dengan realisasi sebesar 130 MVA atau 95% dari target barunya. Menurut kami, keterlambatan tersebut lebih bersumber dari jadwal ekspansi tenant data center yang sedikit mundur, faktor yang berada di luar kendali POWR.
Lebih lanjut, kami menilai pasar belum sepenuhnya memperhatikan bahwa guidance POWR justru tercapai dalam 2 tahun terakhir, di mana realisasi tercatat sebesar 212 MVA pada 2024 (vs. target: 211 MVA) dan 227 MVA pada 2025 (vs. target: 225 MVA). Tren tersebut pun berlanjut pada tahun ini. Realisasi komitmen kapasitas dari tenant data center POWR telah mencapai 274 MVA, setara 90% dari guidance 2026F di level 303 MVA. Bahkan, perseroan merevisi naik target 2027F dari 317 MVA menjadi 385 MVA (+21%), hanya 2 kuartal setelah target itu pertama kali dicantumkan. Ini menandai revisi naik yang pertama dalam sejarah guidance POWR, mengindikasikan ekspansi anchor tenant berjalan lebih cepat dari ekspektasi awal perseroan.
Rekam Jejak Guidance Kapasitas Data Center POWR pada 2020–2028F
Room for Upside/Downside: Di Mana Ruang Upside yang Belum Tercermin dalam Proyeksi Kami terkait Segmen Data Center?
Tingkat utilisasi pelanggan data center. Berdasarkan perhitungan internal kami, tingkat pemakaian pelanggan data center POWR berada di ~18% pada 2025. Hal ini sejalan dengan pernyataan manajemen bahwa tingkat utilisasi pelanggan data center kurang dari 50% dari kapasitas yang sudah mereka kontrak dan bayar.
Untuk memahami implikasinya, pendapatan POWR dari pelanggan data center perlu dilihat dalam 2 komponen, yakni:
- Capacity charge: tarif yang dikenakan atas kapasitas daya terkontrak, mulai ditagihkan sejak bulan kontrak ditandatangani, serta tidak bergantung pada tingkat pemakaian.
- Usage charge: tarif yang dikenakan atas pemakaian listrik dan naik bertahap mengikuti utilisasi data center.
Dekomposisi Pendapatan Segmen Data Center POWR pada 2021–2027F
Ke depannya, kami memproyeksikan adanya kenaikan utilisasi ke level ~24% pada 2026F–2027F. Tingkat utilisasi ini relatif stabil sepanjang periode proyeksi bukan karena pemakaian tidak tumbuh, melainkan karena kapasitas terkontrak sebagai pembaginya juga terus bertambah seiring ekspansi data center. Artinya, ruang upside dari usage charge masih sangat besar dan belum tercermin dalam proyeksi kami secara agresif.
Kapasitas Terkontrak & Estimasi Tingkat Pemakaian Pelanggan Data Center POWR pada 2021–2027F
Mekanisme ini terlihat jelas pada DCII sebagai anchor tenant terbesar POWR. Tabel berikut menunjukkan bahwa pendapatan POWR dari DCII tetap tumbuh +17–34% YoY per tahun sepanjang 2022–2024 meski kapasitas terkontraknya tidak bertambah, murni dari kenaikan pemakaian atas kapasitas yang sudah terkontrak.
Kapasitas Data Center DCII & Pendapatan POWR dari DCII pada 2020–2025
Berdasarkan tabel sensitivitas kami, setiap kenaikan tingkat pemakaian sebesar 1 percentage point akan menambah laba bersih POWR pada 2026F sebesar ~US$0,75 juta. Dengan demikian, kenaikan utilisasi data center dari 24,5% ke 30,5% berpotensi memberikan tambahan ~US$4,5 juta atau setara ~5% dari proyeksi laba bersih 2026F kami.
Sensitivitas Laba Bersih 2026F terhadap Tingkat Utilisasi & Kapasitas Terkontrak
PLN: Apa yang Membuat Kami Yakin Volume Penjualan Listrik kepada PLN akan Pulih?
Kami yakin volume penjualan listrik ke PLN akan pulih seiring ketersediaan pasokan gas. Pada 4Q25, volume penjualan listrik kepada PLN mencapai titik terendahnya di 111 GWh akibat penurunan pasokan gas, termasuk volume gas HGBT dari Perusahaan Gas Negara ($PGAS), yang digunakan sebagai komponen bahan bakar untuk penjualan listrik kepada PLN.
Gangguan tersebut bermula dari Pertamina EP pada 3Q25, menyusul penghentian operasi tak terencana di Lapangan Subang sejak 5 Agustus 2025, yang memangkas volume suplai gas dari 30 BBTUD ke ~13 BBTUD selama gangguan. Lebih lanjut, PGAS melaporkan masalah tekanan di jaringan transmisi South Sumatra–West Java (SSWJ) yang berpotensi mengganggu pasokan gas ke pembangkit POWR, meski pasokannya pulih ke level pra-insiden hanya dalam lima hari.
Ke depan, manajemen POWR menyampaikan pada earnings call 1H26 bahwa pasokan gas pada 2H26 akan lebih baik seiring kembalinya pasokan Pertamina EP serta penandatanganan kontrak dengan Lapangan Akasia Bagus milik Pertamina EP sebesar 6,18 MMSCFD yang berlaku hingga 2035. Mengingat gas dari berbagai sumber tersebut dialirkan ke sistem pembangkit yang sama, kenaikan total volume pasokan gas akan langsung memperlebar ruang penyaluran listrik POWR ke PLN.
Oleh karena itu, kami memproyeksikan volume penjualan POWR kepada PLN naik ke 723 GWh pada 2026F (+4% YoY). Kami menilai kenaikan ini relatif realistis, sejalan dengan kenaikan dalam 2 kuartal terakhir.
Volume Penjualan Listrik POWR ke PLN per Kuartal (2025 vs. 2026F)
Suplai Gas: Apa Dasar Pemulihan Volume Gas ke Depan?
Normalisasi pasokan gas supplier sebelumnya dan tambahan pasokan baru. Pada earnings call 1H26, manajemen POWR menyampaikan bahwa pasokan gas pada 2H26 akan lebih baik, dengan 2 faktor pendukung utama:
- Normalisasi pasokan Pertamina EP. Pasokan berangsur pulih sejak Februari 2026, naik ke 25 BBTUD pada akhir Maret 2026, dan kembali normal di ≥30 BBTUD sejak akhir April 2026.
- Tambahan pasokan baru. POWR menandatangani kontrak dengan Lapangan Akasia Bagus milik Pertamina EP sebesar 6,18 MMSCFD, yang berlaku hingga 2035 dan mulai mengalir sejak awal 3Q26.
Di luar keduanya, manajemen sedang menjajaki beberapa sumber pasokan dari Jawa bagian timur, seiring selesainya proyek pipa Cisem II yang beroperasi penuh sejak Juni 2026. Diskusinya berlangsung intensif dan positif, dengan finalisasi diharapkan dapat berlangsung pada 2027F atau 2028F. Kami menilai diversifikasi pasokan gas tersebut akan membuat POWR lebih siap menghadapi tambahan permintaan ke depan.
Sumber Pasokan Gas POWR & Statusnya per 1H26
Growth Constraint: Apakah Kapasitas Pembangkit & Suplai Gas Saat Ini Cukup Menopang Pertumbuhan POWR?
Cukup, setidaknya hingga 2027F. Kapasitas pembangkit POWR masih menyisakan excess capacity yang besar, sementara kontrak gasnya sudah cukup untuk menopang proyeksi volume kami hingga 2027F.
Dari sisi kapasitas, net capacity factor POWR — yakni, tingkat utilisasi pembangkit listriknya — baru mencapai 54% pada 2025, turun dari 61% pada 2020. Penurunan tersebut tidak berasal dari penurunan kualitas kondisi pembangkitnya, mengingat availability factor POWR tetap berada di atas 90% dalam 6 tahun terakhir. Dengan kata lain, penurunan tersebut mencerminkan volume permintaan yang lebih rendah, bukan keterbatasan pembangkitnya, sehingga kenaikan volume hingga 2027F dapat dilayani tanpa tambahan kapasitas.
Utilisasi Pembangkit Listrik POWR pada 2020–2027F
Jika permintaan penjualan listrik melampaui kemampuan kapasitas saat ini, POWR juga dapat membangun kapasitas baru. POWR saat ini sudah menambah pembangkit gas berkapasitas 4x12,5 MW di MM2100, dengan sinkronisasi pembangkit ke jaringan ditargetkan pada awal Agustus 2026. Ke depan, manajemen POWR menyampaikan pada earnings call 1H26 bahwa perseroan juga sedang mempertimbangkan rencana ekspansi pembangkit hingga 300 MW pada periode 2029–2030, bergantung pada outlook pertumbuhan kapasitas data center di area perseroan.
Meski demikian, kekhawatiran kami justru lebih tertuju pada suplai gas, baik akibat natural decline maupun gangguan operasional. Untuk mengatasi hal ini, POWR telah berupaya menambah pasokan baru serta berkomunikasi dengan pelanggannya terkait penggunaan LNG yang akan terus membesar ke depan seiring isu natural decline. Untuk periode proyeksi kami sendiri, kekhawatiran tersebut belum menjadi persoalan, mengingat estimasi kami menunjukkan bahwa permintaan hingga 2027F masih dapat dipenuhi oleh kontrak gas yang sudah dimiliki perseroan saat ini.
Valuation Check: Setelah Naik +25% dalam Sebulan, Apakah Harga Saham POWR Masih Ada Ruang Kenaikan?
Dalam 1 bulan terakhir, harga saham POWR sudah naik +25% ke level Rp900/lembar. Kami menilai rally ini tidak dapat dilepaskan dengan rally saham–saham yang dianggap memiliki proxy data center belakangan ini. Meski demikian, kami menilai valuasi POWR saat ini masih tergolong murah dengan mempertimbangkan prospek pertumbuhannya.
Pada harga Rp900/lembar per Jumat (4/9), POWR diperdagangkan pada 9x P/E dan 4,2x EV/EBITDA 2026F dengan dividend yield 10,5%, terdiskon -51% (P/E) dan -69% (EV/EBITDA) terhadap rata–rata peers utilitas regional pada tahun yang sama (18,4x P/E, 13,6x EV/EBITDA). Pada basis 2027F, valuasi tersebut semakin murah di 7,8x P/E dan 3,7x EV/EBITDA dengan dividend yield 12,2%.
Perbandingan Valuasi POWR dengan Peers Utilitas Regional
Kami menilai pergerakan sideways harga saham POWR dalam beberapa tahun terakhir cukup dapat dipahami, mengingat profitabilitasnya sempat tertekan tanpa disertai pertumbuhan volume. Meski demikian, kedua kondisi tersebut berhenti berlaku pada 2026F, sehingga harga saham POWR berpotensi naik mengikuti pertumbuhan labanya. Di luar itu, re–rating multiple menjadi potensi upside tambahan seiring pasar mulai memandang POWR sebagai salah satu proxy dari tema data center dan AI di pasar saham Indonesia.
Kami menggunakan pendekatan dividend yield sebagai basis utama valuasi, mengingat dividen menjadi komponen utama return POWR selama ini. Dengan dividend payout ratio yang bertahan di kisaran ~95% dalam 4 tahun terakhir, pergerakan harga saham POWR secara historis lebih dipengaruhi dividend yield–nya ketimbang multiple laba. Kami menilai pendekatan ini paling konservatif karena tidak mengandalkan re–rating, sehingga potensi re–rating menjadi bonus upside tambahan. Dengan bahasa yang lebih sederhana, kami menilai investor akan terus mengakumulasi POWR selama dividend yield yang ditawarkan berada di kisaran 11–12% (abnormal returns), hingga harganya naik ke level di mana dividend yield yang ditawarkan turun ke level yang lebih normal.
Dengan asumsi target dividend yield sebesar 9%, kami menilai fair value POWR berada di level Rp1.050/lembar (+17%) pada basis 2026F atau Rp1.215/lembar (+35%) pada basis 2027F.
Implikasi Fair Value POWR Berbasis Dividend Yield pada 2021–2027F
Sementara itu, jika menilai fair value POWR berdasarkan perhitungan multiple dan dengan asumsi re–rating ke 12x P/E dan 5,5x EV/EBITDA, valuasinya berada di kisaran Rp1.175–1.195/lembar pada basis 2026F dan Rp1.340–1.385/lembar pada basis 2027F. Kami menilai asumsi re–rating tersebut masih cukup konservatif, mengingat POWR sendiri pernah diperdagangkan pada 12,5x P/E dan 6x EV/EBITDA pada 2018, sekaligus masih di bawah rata-rata peers regional di 18,4x P/E dan 13,6x EV/EBITDA.
Implikasi Fair Value POWR Berbasis Multiple pada 2018–2027F
Dividend Yield: Mengapa Asumsi Dividend Payout Ratio POWR Tetap 95% Meski Sedang Bertumbuh?
Karena pertumbuhannya belum membutuhkan belanja modal baru, setidaknya hingga 2027F. Seperti yang kami bahas pada bagian Growth Constraint, kapasitas pembangkit POWR masih cukup untuk melayani kenaikan volume dalam periode tersebut sehingga kami mengasumsikan capex–nya relatif tetap. Asumsi payout ratio 95% yang kami gunakan pun sejalan dengan realisasinya dalam 4 tahun terakhir. Di luar periode itu, asumsi dividend payout ratio kami bergantung pada keputusan perseroan atas rencana ekspansi pembangkit.
Liquidity Check & Free Float: Bagaimana Update Pemenuhan Free Float?
Sudah terpenuhi, dengan sisa saham treasuri yang hampir habis. Saham treasuri POWR turun dari 204,99 juta lembar (1,27%) pada akhir Juli 2026 menjadi 6,79 juta lembar (0,04%) pada akhir Agustus 2026, sehingga free float naik dari 14,52% menjadi 15,88%. Di sisi lain, rata–rata nilai transaksi harian POWR dalam 3 bulan terakhir juga naik ke level Rp5,1 M per 4 September 2026, dibandingkan Rp1,9 M pada tahun lalu. Kami menilai kombinasi meredanya supply overhang dan meningkatnya likuiditas akan meningkatkan daya tarik POWR bagi investor ritel maupun institusi, sekaligus membuka ruang re–rating dari valuasinya yang terdiskon.
Struktur Pemegang Saham & Free Float POWR
Risiko Utama yang Perlu Dicermati
Beberapa risiko utama yang kami lihat bagi POWR adalah:
• Realisasi Growth yang Lebih Rendah dari Ekspektasi — Sebagian besar pertumbuhan volume industrial POWR pada 2026F–2027F bertumpu pada pelanggan data center, baik dari penambahan kapasitas terkontrak maupun kenaikan tingkat utilisasi kapasitas yang sudah ada. Perlambatan pada salah satunya — misalnya, kapasitas terkontrak yang bertambah tetapi tidak diikuti kenaikan pemakaian — akan langsung menekan proyeksi pendapatan kami.
• Ketersediaan Volume Gas — Berkurangnya pasokan gas membuat perseroan harus kembali membakar diesel untuk mempertahankan kualitas pasokan listriknya kepada pelanggan industri. Hal ini terbukti pada 2025, ketika biaya diesel sebesar US$26 juta tidak terkompensasi oleh formula tarif.
• Realisasi Volume PLN di Bawah Asumsi — Meski asumsi tingkat penyaluran POWR kepada PLN sudah konservatif dan memperhitungkan suplai gas saat ini, realisasi di bawah asumsi tersebut akan menurunkan pendapatan perseroan.
• Beban Pajak Tangguhan & Pelemahan Rupiah — Laporan keuangan POWR disusun dalam dolar AS sementara perhitungan pajaknya dilakukan dalam rupiah. Akibatnya, setiap pelemahan rupiah menambah beban pajak tangguhan dan menggerus laba bersih, meski sifatnya akuntansi semata.
• Belanja Modal & Penurunan Dividend Payout — Risiko utama terhadap asumsi kami atas dividend payout ratio POWR datang dari rencana penambahan kapasitas hingga ~300 MW yang tengah dibahas manajemen. Dengan payout di 95%, kebutuhan capex yang datang lebih cepat dari perkiraan dapat langsung berdampak pada penurunan dividend payout ratio.
Appendix Profil Perusahaan: Bisnis Pass–Through dengan Kapasitas Berlebih
POWR adalah perusahaan listrik swasta yang memegang wilayah usaha eksklusif di 5 kawasan industri di Bekasi, berdasarkan izin usaha yang berlaku hingga Desember 2036. Berbeda dengan skema independent power producer (IPP) yang bergantung pada PLN sebagai satu–satunya pembeli sebelum sampai ke pelanggan akhir, POWR menjual listrik langsung kepada lebih dari 2.500 pelanggan industri di dalam wilayah usahanya. Di luar itu, perseroan memiliki kontrak penyaluran listrik kepada PLN sebesar 150 MW yang berlaku hingga Mei 2031.
Secara model bisnis, tarif POWR memiliki komponen bahan bakar yang bersifat pass–through ke pelanggan industri maupun PLN. Saat ini, POWR mengoperasikan 3 pembangkit dengan total kapasitas 1.144 MW yang terdiri dari: 1) PLTGU Jababeka (755 MW, gas dan diesel); 2) PLTU Babelan (280 MW, batu bara dan biomassa); dan 3) PLTG MM2100 (109 MW, gas). Selain itu, perseroan juga memiliki pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas 50,5 MWp. Sebagai konteks, net capacity factor perseroan pada 2025 tercatat 54,2% (vs. 2024: 54%), sehingga masih tersedia ruang produksi yang besar dari aset yang sudah terpasang.
Lokasi Aset & Kapasitas Pembangkit POWR
Meski tingkat utilisasi aset relatif rendah, perseroan tetap menambah 2 fasilitas dalam 2 tahun terakhir. Pertama, mesin gas berkapasitas 4x12,5 MW di MM2100 dengan sinkronisasi pembangkit ke jaringan ditargetkan pada awal Agustus 2026. Menurut manajemen, fasilitas ini ditujukan untuk menstabilkan pasokan dari pembangkit surya pada kondisi normal, tetapi tetap dapat dimanfaatkan sebagai kapasitas tambahan ketika permintaan pelanggan meningkat. Kedua, retrofit co-firing biomassa di PLTU Babelan yang meningkatkan kapasitas pembakaran biomassa menjadi 70 MW dari total 280 MW.
Penulis:
Theodorus Melvin, Investment Analyst
Editor:
Vivi Handoyo Lie, Head of Investment Research
Edi Chandren, Investment Analyst Lead
Andrian Tanuwijaya, Senior Investment Analyst
Aulia Rahman Nugraha, Senior Investment Journalist
Copyright 2026 Stockbit, all rights reserved.
Disclaimer:
Semua konten dalam artikel ini dibuat untuk tujuan informasional dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual saham tertentu. Always do your own research.
Informasi ini dimiliki oleh PT Stockbit Sekuritas Digital ("Stockbit"), Perusahaan efek yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan.
Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Stockbit tidak pernah memaksa nasabah untuk melakukan investasi pada aset tertentu atas materi yang disampaikan.
Disclaimer:
Email ini dikirim oleh PT Stockbit Karya Indonesia (“Stockbit”), perusahaan media ekonomi dan keuangan yang menghadirkan berita, analisis, dan insight tentang dunia bisnis, investasi, dan kebijakan ekonomi, khususnya yang terkait Pasar Modal.
Semua konten dalam email ini dibuat untuk tujuan informasional dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli/menjual saham tertentu. Always do your own research.
Selanjutnya, semua keputusan investasi nasabah mengandung risiko dan adanya kemungkinan kerugian atas investasi tersebut. Seluruh risiko investasi bukan merupakan tanggung jawab Stockbit melainkan menjadi tanggung jawab masing-masing nasabah.
Domain resmi Stockbit adalah https://stockbit.com/ dan semua informasi yang dikirimkan oleh kami akan menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit dan/atau alamat email yang diakhiri “@Stockbit.com”. Semua pemberian Informasi Rahasia kepada pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit namun tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit merupakan tanggung jawab pribadi pihak pemilik Informasi Rahasia dan kami tidak bertanggung jawab atas setiap penyalahgunaan Informasi Rahasia yang dilakukan oleh pihak–pihak yang mengatasnamakan Stockbit yang tidak berasal dari atau tidak menggunakan platform resmi aplikasi Stockbit.
Unsubscribe here
0 komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentar anda